23 September 2012

Prinsip Hidup

Prinsip hidup yang patut dicontoh:
  1. Menyembunyikan hal-hal yang patut dipuji oleh orang lain yang mengesankan dirinya sebagai orang yang shaleh.
  2. Berhentilah melihat diri sendiri yang berpotensi menumbuhkan perasaan bangga atas pencapaian spiritualitas diri.
  3. Secara lahiriah, hidup seperti orang-orang pada umumnya. Namun dalam esensi sejati dan perilaku spiritualnya, hanya 'bergaul' dengan Allah semata.
  4. Cenderung bersembunyi atau tidak menampakkan keshalehan yang memungkinkan orang akan dengan mudah menilai dirinya sebagai orang yang shaleh.
Semoga kita termasuk orang-orang yang memiliki prinsip hidup seperti di atas.

17 September 2012

Budi daya kelapa sawit

Untuk menghasilkan buah kelapa sawit dengan jumlah dan mutu yang baik, maka kita harus memperhatikan teknik budi daya yang meliputi pembukaan lahan, penanaman, dan perawatan tanaman yang benar.
  1. Persiapan areal perkebunan
    •  Pengolahan lahan yang sudah ada
    • Pembukaan areal
    • Pembuatan teras
    • Pemancangan tanaman
    • Penanaman tanaman penutup tanah
  2. Penanaman
    • Pembuatan lubang tanam
    • Pembuatan piringan dan pemberian pupuk dasar
    • Persiapan bibit
    • Pengangkutan bibit ke lapangan
    • Penanaman bibit ke lapangan
  3. Pemeliharaan tanaman
    • Pemeliharaan TBM kelapa sawit
    • pemeliharaan tanaman menghasilkan kelapa sawit

31 Mei 2012

Konser Larc en Ciel di Jakarta

Penantian panjang pecinta L'Arc en Ciel alias Laruku untuk bisa menyaksikan pertunjukan sang idola berakhir indah. Laruku mengajak penggemar bersenang-senang hingga ke langit ke-7 seperti judul lagu mereka, 'Seventh Heaven'.

Laruku mengemas pertunjukan dengan apik dari awal hingga akhir. Konser yang digelar di Lapangan D Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (2/5/2012) itu mulai berlangsung pukul 20.00 WIB. Ribuan penggemar telah menanti sang idola sejak siang hari.

Panggung yang awalnya gelap gempita langsung mengeluarkan suara-suara pemancing adrenalin. Video 'L'Arc en Ciel World Tour 2012' pun diputar membuat teriakan penonton tanpa basa-basi muncul dari hampir semua sudut. Deg-degan, penasaran, segala perasaan campur aduk jadi satu.

Satu per satu para personel Laruku menempati posisi mereka. Sang gitaris Ken tampak keren dengan kemeja cokelat yang dilapisi jas abu-abu berkilap. Yukihiro santai mengenakan kaus tanpa lengan dengan arsir merah dan biru di beberapa bagian.

Sang bassis Tetsuya yang paling modis di antara personel lainnya mengenakan baju putih-putih
dan syal pink. Yang paling bikin penasaran tentunya adalah penampilan Hyde. Ia memakai kaus dalam putih panjang dengan paduan layer hitam berlengan panjang. Hyde menata rambutnya dengan kepang dan sambungan warna-warni seperti dandanan khas yang belakangan sering ia pakai dalam tur Laruku.

Semua benar-benar dipersiapkan dengan baik. Termasuk visual yang diberikan untuk setiap lagu Laruku. Sebuah layar besar di belakang panggung menambah dramatis aksi mereka. Bagian kiri dan kanan panggung pun dilengkapi dua layar lebar untuk bisa melihat aksi personel Laruku lebih detail.

Belum lagi tata lampu yang boleh dibilang tidak berlebihan tapi sanggup membuat aksi Hyde cs makin mempesona. Sayangnya, sound kurang nyaman di telinga saat awal konser. Namun lama kelamaan malah semakin membius.

Konser dibuka dengan 'Ibara No Namida' dan 'Chase'. Semua bernyanyi bersama meski tidak mengerti arti dari lagu tersebut. 'Good Luck My Way' membuat tanah Senayan semakin bergetar malam itu. Semua melompat mengikuti ketukan lagu.

Begitu lagu selesai panggung sepi. Penonton penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ternyata itu saatnya Hyde menyapa penggemar di Jakarta.

"Halo Jakarta (sambil melempar cium jauh). Kami L'Arc en Ciel. Kalian senang bertemu aku? Aku?... Aku juga.. Aku juga.. Jakarta selamat menikmati," ujar Hyde dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Di akhir kalimatnya, Hyde tertawa geli mendengar dirinya berbahasa Indonesia dengan ngaco.

'Honey' langsung membuat penonton koor nyanyi bareng. Disambung dua lagu kencang yaitu 'Drink It Down' serta 'Revelation'. Penonton spontan bersorak bersama mengisi bagian-bagian jeda di lagu tersebut.

Memasuki sesi "galau", 'Hitomi No Junnin' dibawakan para personel Laruku sambil duduk santai. Hyde tampak mengenakan topi lebar hitam. Penonton mengangkat light stick berwarna-warni dan melambaikan tangan mengikuti irama.

Momen tersebut benar-benar sangat menyentuh. Bukan hanya bagi penonton yang menikmati lagu, tapi juga untuk Laruku. Terlihat Hyde sangat emosional ketika menyanyikannya. Matanya memerah.

Akhirnya lagu 'Forbidden Lover' sukses membuat Hyde meneteskan airmatanya. Pecintanya pun ikut terhanyut dengan Hyde yang sangat menjiwai lagu tersebut. Perasaan mellow yang belum berakhir, tiba-tiba sudah ditimpa lagu 'My heart Draws a Dream'. Penonton tak bisa menolak untuk diam dan tidak bernyanyi bersama.

Giliran Ken bicara kepada penggemarnya. Ia mengambil secarik kertas. Sepertinya Ken sudah sangat mempersiapkan apa yang ingin ia katakan untuk penggemarnya.

"Mantap. Kami L'Arc en Ciel. Gue kemarin lusa foto di Kota Tua. Foto-fotonya keren banget," tutur Ken disambut teriakan penonton.

"Jakarta tuh panas gila ya? Makanya kemarin gue berenang, pengennya sih sama cewek-cewek pakai bikini, cuma nasib adanya gue dan teman-teman gue. Hari ini ada yang pakai bikini nggak?," canda
personel yang memang paling usil itu. Lucunya semua yang diucapkan Ken adalah dalam bahasa Indonesia. Dan jika ia mulai kesulitan melafalkannya, Ken akan berteriak "Mantap.. Man man man, tap tap tap".

"Semalam gue makan mie goreng, nasi goreng sama sama sate. Gokil. Mantap.. Man.. Man.. Gue beli oleh-oleh buat Hyde di Pasar Raya. Gue beli wayang, samurai kecil sama gelang-gelang. By the way busway, si Hyde pasti nggak ngerti," ucap Ken sambil menyerahkan plastik putih bertuliskan Pasar Raya.

Di dalam plastik tersebut banyak mainan untuk Hyde. Ketika Ken masih sibuk merangkai kata bahasa Indonesia, Hyde memainkan wayang orang dan sebuah gamblang kecil. Ternyata ada suling juga di dalam plastik. Ia mencoba meniup suling tersebut, namun gagal bersuara. Ken memainkan gamlang tersebut dan Hyde tersenyum girang.

"Terima kasih," ucap Hyde kepada Ken.

"Habis ini gue bakal suruh Hyde mainin tuh suling sama gamblang. Mantap," tutup Ken. Tentu aksi Hyde dan Ken yang bak anak kecil itu membuat penonton makin mencintai mereka.

'Seventh Heaven' dan 'Driver's High' menjadi lagu selanjutnya yang dibawakan setelah Ken selesai "berkomedi". Tetsuya pun mengambil panggung sejenak. Ia melakukan kebiasaannya melemparkan pisang ke arah penonton. Sebelum dilempar, tentu saja Tetsuya mencium dulu pisang tersebut. Tetsuya pun melakukan solo bass sejenak.

Konser disambung 'Stay Away' dan 'Ready Steady Go' yang tiada henti membuat sekitar 9 ribu penonton berjingkak. Letupan kembang api yang hanya berbunyi sekali menambah getaran tersendiri untuk lagu tersebut. Yukihiro melakukan solo tanpa bicara sepatah katapun. Ia memang pemalu. Keempat personel Laruku meninggalkan panggung dan Encore dimulai.

Setelah beberapa menit berselang, 'Anata' dimainkan. Visual lirik ditampilkan di tiga layar besar di panggung. Lalu gambar tetesan air hujan yang disambut gerimis sungguhan mengguyur penonton. Bagi banyak orang, momen tersebut sangatlah menyentuh. Tak sedikit lho penonton yang menangis haru saat lagu ini dimainkan.

"Gue Suju dari Korea. Opsss," celetuk Tetsuya. "Suaranya mana? Apakah kamu mau pisang gue? Atau kamu mau jilat lolipop gue?" sambut Tetsuya dengan kesusahan. Tetsuya pun tertawa sendiri karena kemampuan berbahasa Indonesianya dirasa sangatlah lucu.

Tetsuya lalu melemparkan pisang ke arah penonton. Ia juga membagi-bagikan lolipop. Sementara Ken mulai mengeluarkan gaya khasnya, merokok sambil mencabik gitarnya.

"Terima kasih," ucap Hyde sembari melempar ciuman. "Kamu senang? Aku juga. Kami datang ke Indonesia lagi. Terima kasih. Ini lagu terakhir," jelas Hyde dan 'Niji' pun dimainkan.

Banyak yang tak rela Laruku harus mengakhiri konsernya. Para personel Laruku pun demikian. Mereka ingin tinggal lebih lama lagi dalam konser yang dipromotori Marygops Studios tersebut.

Di akhir pernjumpaan, masing-masing personel sibuk berpamitan dengan penggemarnya. Tetsuya melempar sisa-sisa pisangnya dan bermain-main dengan pistol air berbentuk pisang kebanggannya. Hyde tak henti-henti mengucapkan kata "terima kasih" dan Ken pun mendekati penonton untuk bersalaman. Hanya Yukihiro saja yang tidak banyak berinteraksi karena sifat pemalunya. Sayonara Laruku.

Detik.com

06 Mei 2012

Pantun Gombal Gombel

Berikut ini pantun-pantun yang menjadi performance treasury retail, alliance, and sollution waktu perayaan hari Kartini tanggal 23 April 2012.


Pantun 1
Jalan2 ke kota palu
Jangan lupa membawa oleh2 sagu
Hei gadis yang berbaju biru
Bolehkah aku tahu namamu

Pantun 2
Jalan2 ke plaza mandiri
Jangan lupa mampir ke lantai 8
Eh ada wanita cantik lagi sendiri
Bolehkan hamba mengajak kenalan

Pantun 3
Masih pagi sudah ditelepon nasabah
Laksanakan tugas dengan giat
Segala problem bukanlah masalah
Karena ada mba Rena yang selalu memberikan semangat

Pantun 4
Jalan2 ke Makassar
Sampai di Makassar ketemu Surya
Kenapa mba rena yang cantik ini terlihat gusar
Kalau ada problem bolehlah di share ke saya

Pantun 5
Mba-mba sekalian hari ini menggunakan baju Bodo
Tujuannya untuk memperingati hari kartini
Saat ini hamba sedang mencari jodoh
Adakah diantara mba bertiga yang masih sendiri

Pantun 6
Kalau perlu banknotes bisa ke mangga dua
Kalau mau kurs spesial boleh ke treasury
Untuk bisa mendapatkan hati mba Rena
Apapun akan saya beri

Pantun 7
Jika nasabah mau jual
Maka dikasi harga yang disebelah kira
Mba Rena adalah wanita yang sangat spesial
Sangat beruntung pria yang memiliki

29 April 2012

Filosofi hijau, kuning, merah

Green, Gold and Red (Hijau, Kuning dan Merah) bukan hanya sekedar bendera Reggae saja. Bendera ini punya sejarah yang panjang ternyata.Warna hijau kuning merah itu adalah warna bendera Rastafari Movement atau Gerakan Rastafari. Rastafari adalah sebuah agama yang lahir di Jamaica, namun ada juga yang lebih suka menyebutnya the way of life ketimbang agama. Agama tersebut berdasarkan pada Alkitab namun telah dipengaruhi oleh agama dan kepercayaan-kepercayan religius lainnya di Jamaica.

Setiap warna dari bendera Rastafari tersebut memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan darah yang tumpah ke bumi, kuning melambangkan emas yang hilang atau kemakmuran juga matahari yang memberikan kehidupan pada semua, dan hijau melambangkan daratan hijau afrika yang hilang.

Kelahiran reggae tak lepas dari konteks sejarah sosial dan kultural Jamaika sebelum merdeka dari Inggris pada 6 Agustus 1962. Kondisi psikososial dan kultural Jamaika prakemerdekaan memunculkan pandangan ideal tentang kondisi negeri damai dan merdeka.

Masyarakat akar rumput Jamaika yang didominasi oleh keturunan Afrika mengidolakan segala sesuatu yang berbau kultur Afrika. Mereka mengimpikan Afrika sebagai negeri pengharapan. Mereka mengidolakan tokoh seperti Kaisar Etiopia Haile Selassie I. Lahirlah kemudian apa yang disebut sebagai gerakan Rastafari.

Istilah Rastafari berasal dari Ras dan Tafari. Ras merujuk pada pengertian gelar kebangsawanan. Tafari diambil dari Tafari Makonen yang merupakan nama Haile Selassie sebelum dinobatkan sebagai Kaisar Etiopia. Rastafari merupakan semacam respons dari pandangan yang mengecilkan kaum kulit hitam Jamaika.
Identifikasi Afrosentris itu juga jatuh pada pilihan warna hijau, kuning, dan merah. Kombinasi tiga warna tersebut diambil dari warna bendera Etiopia, merah, kuning, hijau. Merah melambangkan darah para martir, hijau adalah kesuburan Afrika, sedangkan kuning merupakan lambang kekayaan dan kemakmuran Afrika.

Warna ini kemudian menjadi simbol gerakan Rastafari. Pun menjadi warna “wajib” dalam komunitas reggae di mana pun, termasuk di Indonesia. Ya. That’s it.. Filosofi Green, Gold N Red. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan soal Reggae.

16 April 2012

Muslims on Wall Street, Bridging Two Traditions

Naiel Iqbal's co-workers couldn’t figure him out. He’d just started at a Midtown Manhattan hedge fund — the kind of elite enclave where overachievers in button-downs go to make a few hundred grand before heading off to Harvard Business School.

But Mr. Iqbal, 27, a graduate of the Wharton School, wasn’t acting like a typical finance guy. He didn’t introduce himself around the office. Nor did he grab lunch with the other traders.
In fact, he didn’t eat at all. Or drink. Not coffee, not soda, not even a sip of water from a Nalgene bottle on his desk.

All day, he just sat there, staring into his Bloomberg terminal. Was he sick? Nervous? A modern Bartleby? None of the above: It was Ramadan, and Mr. Iqbal, a Muslim, was exhausted from fasting daily till sundown.

“I’m actually a huge foodie,” he recalls with a laugh. “When Ramadan ended, I was, like: ‘Guys, let’s go to this restaurant! Let’s go to that one!’ Nobody had seen that side of me.” Mr. Iqbal — who doesn’t drink or smoke — is among a growing number of young Muslims who are disrupting Wall Street’s old-boy culture.
Seen from a certain angle, the Street can still look like a monolith — a cohort of white males with Ivy League degrees and Roman numerals attached to their names. (This is especially true the higher you look; there are, for example, no black, female or openly gay chief executives at the nation’s largest banks.) But as the Street adapts to greater regulation, lower profits and tighter costs, it is also experiencing change within its ranks.
Among entry-level financiers, especially, a years-long recruiting effort at major banks has resulted in a diverse group of aspiring Masters of the Universe. Young Muslims, one of the newest groups to make inroads in American finance, can face steep barriers to entry.

Some obstacles are remnants of a less tolerant era. But prominent, too, are the limitations of Islam itself — a faith whose tenets, Muslim workers say, often seem at odds with Wall Street’s sometimes bacchanalian culture.
“I’m always the one drinking Diet Coke at happy hour,” Mr. Iqbal said.

Granted, for the many Muslims in New York and elsewhere who have made peace with a more secular culture, working on Wall Street may not pose any problem.

And Muslims, of course, aren’t the only ones whose values can clash with the ways of Wall Street. Orthodox Jews, conservative Christians and other faithful working in finance have all, at one point, had to square their beliefs and practices with an environment in which money, not God, is king.

But for observant Muslims hoping to keep the values and practices of Islamic law, known as Sharia, intact even as they climb the ladder, the calculus can be messy.

For Aisha Jukaku, a former health care analyst at Goldman Sachs , getting started in finance carried additional challenges.

Ms.Jukaku has worn a head scarf, or hijab, since she was 11. Like many conservative Muslim women, she avoids physical contact with men outside her family. (She makes exceptions for handshakes extended to her in a business setting that would be awkward to decline.) “It’s not something I want to do,” she says of shaking hands with men. “But that’s the common American way of doing business.”

At Goldman, where she worked from 2006 to 2008, she developed a daily routine that let her preserve her religious beliefs while not missing a beat at work. She would wake before sunrise in her Battery Park City apartment, conduct her first of five daily prayers, then fall back asleep until around 8:30 a.m., when she would head to work.

While at Goldman, she dressed more modestly than most of her colleagues, and found a room in the firm’s health center where she could pray during the day. During Ramadan one year, a staffing director, seeing how tired she looked after completing a big deal on an empty stomach, took pity on her.

“He said: ‘Take it easy for the next couple weeks. This can’t be fun for you,’ ” said Ms. Jukaku, who now works as a freelance financial consultant. For many Muslims in finance, such delicate negotiations are part of life.

Ali Akbar, 34, a Pakistan-born managing director at RBC Capital Markets, says that although he observes the Ramadan fast, he doesn’t always pray five times a day and doesn’t pray in his office to avoid drawing the attention of colleagues.

And when the demands of his job collide with the teachings of his faith, a tough choice often follows.
“You can’t just get up in the middle of a deal and say, ‘I have to go spend two hours in a mosque,’ ” Mr. Akbar says.

Working in finance is straightforward enough in a Muslim country, where prayer breaks are typical and holidays like Eid al-Fitr, marking the end of Ramadan, are built into the calendar. But Muslim bankers in the United States have fewer resources.

Many don’t have dedicated prayer rooms at work, and leaving the office to attend Friday prayers at a mosque can mean shuffling duties to a co-worker.

“We have a concept called law of necessity,” said Rushdi Siddiqui, global head of Islamic finance at Thomson Reuters. “You have to, at one level, abide by the laws of the land that you happen to reside in, whether it’s the formal laws or the unwritten laws.”

Perhaps the biggest impediment to greater participation by Muslims on Wall Street is that, by some readings, the Koran prohibits riba, or interest.

Some Islamic scholars have interpreted the ban to be more inclusive of modern finance, and a subgenre of Sharia-compliant financial transactions, known as sukuk, has tried to bridge the gap. Still, a vast majority of Wall Street deals are not Sharia-compliant. So observant Muslims at traditional banks are often forced to shift their boundaries.


“What I was doing wasn’t 100 percent legitimate in terms of religious ruling,” Ms. Jukaku says of her work at Goldman. “But after a while, you stop feeling guilty, I guess.

In 2006, three Muslim twenty-somethings formed a group to help fellow young professionals negotiate issues that arise. The organization, Muslim Urban Professionals, nicknamed “Muppies,” began as a Google group of around 50; members traded messages about job openings, notices of apartments for rent and announcements of group dinners.

It has expanded to about 1,000 members globally, roughly half of whom work in finance, according to Mr.Iqbal, the hedge fund trader, who is now a national administrator of the group. As the Muppies’ ranks have grown, more intimate questions have surfaced.

Earlier this year, one member, who was about to start a job at a well-known consulting firm, e-mailed the group for advice. How, he wondered, could he succeed at his new job without compromising his Muslim values? The consultant’s plea, under the subject line “Avoiding Alcohol and Opposite Gender Handshakes in the Corporate World,” received a vast range of responses.

In regard to the alcohol issue, Muppies respondents divided into liberal, moderate and conservative camps — those who suggested that going to bars with colleagues was permissible, those who thought “drinking-focused events” were unadvisable but that dinners where alcohol was served were O.K., and those who insisted that places serving alcohol were to be avoided.

“The dominant opinion is that it’s still mustahab (recommended) to get up or leave a gathering where alcohol is served, but many consider it mubah (permissible) to stay seated,” the consultant wrote.

On the matter of handshaking, some urged the consultant to shake hands with women when prompted, but not to initiate handshakes himself. Others suggested adopting “a tactful technique to avoid” shaking hands, such as pretending to be sick or wearing gloves.

“I think Muslim professionals are too sensitive and underestimate our co-workers,” the consultant wrote, summarizing his own views.

“People in our society are actually quite understanding of these things and we just freak out, thinking,
 ‘OMG, what will they all think if I don’t shake her hand??!!’ Just trust in God and He will guide you and give you more than that which you give up for him.” The Muppies also draw on a network of older, more experienced mentors in finance and investing.

One such mentor, Iftikar A. Ahmed, a general partner at the venture capital firm Oak Investment Partners, says the Muppies fill an “amazing need” in the community.

“It’s telling them that you can follow an American way of life while not denying the fact that you happen to be a Muslim,” Mr. Ahmed said.

Mohamed A. El-Erian, chief executive of the giant bond house Pimco and one of the highest-ranking Muslims in American finance, said in an e-mail interview that he had never experienced “religion-based impediments” in his decades-long career.

He said he would advise young Muslims to “seek the opportunities and firms that speak to their set of values, expertise and passion.” Left unsaid by senior Muslims, but understood by many Muppies, is that being Muslim can be an asset for one’s employer and clients.
Muslim bankers, for example, may have to leave work at 1 p.m. on Fridays to go to the mosque.

But they also may be less likely to rack up a huge bar tab on the company card and may be better positioned to compete for business in Arab markets.

“Rightly or wrongly, if you’re religious, you’re considered to have a reasonable degree of integrity,” says Sohail Khan, a managing principal at StormHarbour Securities and former trader at Citigroup.

He says that his business expenses are often lower than colleagues’ and that he considers his lifestyle an asset in negotiating deals.

“When you’re the only guy at the table that’s not drunk, it’s a great weapon,” he said. “You know more than anyone else at the table the next morning.”

Mr.Akbar of RBC agrees that “being a good Muslim helps you be a good banker” but acknowledges that the union of his religious beliefs and his work in finance has been less than perfect.

“When I made a decision to pursue a career on Wall Street, there were certain things I knew I would have trouble reconciling with my faith,” he says. “I did some research, and I gained comfort that God is all-forgiving.”

For some, though, the envelope can be pushed only so far. Farhan Malik, Mr. Khan’s cousin and former Citigroup colleague, found his faith tested last year when asked to work on a trade involving British pubs.
Mr. Malik, who does not drink, decided that trading so-called pub securities would violate tenets of his faith. He asked to be taken off the assignment; his bosses gladly acquiesced.

For Mr. Malik, who has since left Citigroup and now works at a Bahrain bank that deals sukuk products in addition to more conventional ones, the notion of marrying Western bank culture with Islam’s demands came to feel like an uphill battle.

“If you’re going to go out for Friday prayers, if you’re not drinking, it’s like trying to box with one of your hands tied behind your back,” he said.

Still, for the Muppies and other Muslims hoping to make it on Wall Street, the fight carries on. The goal, they say, is to be so good at their jobs that bosses and colleagues come to think of each as just another hard worker.

“Wall Street is basically blind to religion,” said Mr. Siddiqui at Thomson Reuters.

“What it’s concerned about is deal flow, assets under management and transactions.” Mr. Malik, the former Citigroup trader, said it another way: “You could be worshiping Satan. As long as you’re making money, they’re happy.”

07 April 2012

IHSG dan Rupiah


Berikut ini adalah resume dari essai pak Kwik Kian Gie yang disadur ulang dengan "bahasa anak teknik"

Ekonomi Indonesia saat ini sedang menunjukkan perkembangan yang sangat positif. IHSG yang terus menguat, rasio hutang yang sudah di bawah 30%  terhadap PDB, cadangan devisa yang sangat besar, serta PDB yang meningkat merupakan buktinya. Indonesia sudah di ambang pintu untuk masuk ke dalam 10 ekonomi terkuat di dunia. Namun ternyata hal ini menimbulkan satu kekhawatiran yang sangat kentara.
PDB yang meningkat itu sebenarnya hanyalah hal yang semu. Ilustrasinya sebagai berikut:

"Kalau ada perusahaan Amerika yang membawa masuk uang sebesar USD 100 milyar dan dipakai untuk mengeksplorasi batu bara, batu bara yang dikeluarkan dari perut bumi ke atas permukaan perut bumi dicatat oleh statistik kita sebagai PDB. Namun PDB ini bukan milik kita, tetapi milik investor Amerika itu. Bangsa Indonesia memang memperoleh sesuatu, yaitu royalti dan pajak yang sangat kecil. Pendapatan dari SDA Non Migas hanya sekitar Rp. 22 trilyun!"

"Batu bara yang milik investor Amerika itu kemudian diekspor. Statistik mencatat ekspor RI meningkat. Padahal ekspor ini tidak mengakibatkan kekayaan bangsa Indonesia bertambah, pendapatan bagi bangsa Indonesia hanyalah dari  royalti dan pajak yang kecil itu tadi."

Begitu pula dengan cadangan devisa yang meningkat. Apakah pada kenyataannya memang seperti itu:

"Perusahaan Amerika memperoleh penghasilan dari penjualan batu baranya yang dijual di luar negeri dalam valuta asing. Hal inilah yang akan dihitung sebagai cadangan devisa. meningkat. Padahal valas itu milik perusahaan tersebut. Mereka bebas menyimpan di mana saja dan dalam bank apa saja. Untungnya saat ini sudah keluar peraturan bahwa devisa hasil ekspor harus disimpan di bank-bank di Indonesia."

Ketika IHSG melemah, nilai tukar rupiah juga turut melemah. Padahal nilai tukar Rupiah ditentukan dari nilai impor dan ekspor, sedangkan IHSG tergantung dari fundamental perusahaan-perusahaan yang saham-sahamnya diperdagangkan di BEI. Keduanya sebenarnya berhubungan, saat investor asing memasukkan dollarnya ke Indonesia untuk membeli saham. Maka harga saham meningkat dan pasokan dollar juga meningkat. Kalau investor asing dengan alasan apapun juga merasa sudah tiba waktunya mengambil untung dari saham maka saham miliknya tersebut dijual dan harga saham turun.

Hasil penjualan sahamnya yang dalam rupiah ditukarkan ke dalam dollar untuk dikeluarkan lagi dari Indonesia. Hal ini menyebabkan permintaan terhadap dollar meningkat, harga dollar meningkat. Penawaran dari rupiah melimpah, harga rupiah (nilai tukar) melemah.

Ketika zaman Menkeu Sri Mulyani pemerintah Indonesia pernah menerbitkan obligasi RI dalam dollar yang bunganya 10,5 %. Padahal saat itu di AS tingkat bunga yang berlaku 0,3%. Ini membuktikan bahwa pemerintah RI sebenarnya masih sangat kekurangan dollar yang bisa dimiliki dan dikontrol olehnya.

05 April 2012

Doa

Pemaknaan doa adalah segala sesuatu yang emmbuat hambanya mampu mengatasi ujian dari Allah. Kedudukan dari doa adalah bahwa:
  1. Doa itu lebih kuat dari ujian
  2. Takdir itu tidak dapat ditolak kecuali melalui doa
  3. Semua dari kita pasti punya cita-cita, maka dari itu, spesifiknya doa menjadi suatu yang penting mengingat selain sebagai pengingat juga sebagai ukuran keberhasilan dan kebahagiaan kita
  4. kadang kita tersadar tentang kejadian yang terjadi setelah sekian lama (baru dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut)

10 Alasan memilih pasangan dealer Treasury

Kenapa anda harus memiliki pasangan seorang dealer Treasury?? berikut 10 alasannya versi gw..,
  1. Dealer itu memiliki prinsip “My Word is My Bond” jadi lebih bisa dipercaya
  2. Dealer itu sangat perhitungan untuk hal-hal sekecil apapun. Bahkan satu perak pun bisa dipermasalahkan
  3. Dealer itu rajin. Buktinya terkadang di malam hari ataupun di pagi hari sebelum berangkat ke kantor masih memikirkan apa yang terjadi di market walaupun tidak memiliki posisi
  4. Dealer itu setiap tindakan yang dilakukan pasti memiliki minimal 3 alasan kenapa melakukan hal tersebut.
  5. Seorang dealer yang sudah berpengalaman itu selalu disiplin karena dalam pekerjaannya selalu dituntut mengenai kedisiplinan
  6. Dealer itu dapat melakukan 2 sampai 3 pekerjaan sekaligus (multitasking)
  7. Saat seorang dealer berbohong, itu pasti demi kebaikan semua pihak (white lies)
  8. Seberat apapun pekerjaan yang dijalani, sebesar apapun target yang diberikan, sebanyak apapun rugi yang dia terima seorang dealer itu selalu memegang prinsip “forget about today, lets fight again for better tomorrow”
  9. Dealer itu rapi mulai dari yang paling simple seperti kebersihan meja hingga tertib administrasi
  10. Dealer itu friendly karena dalam pekerjaannya dia akan banyak berhubungan dengan banyak pihak mulai dari counterparty, nasabah, hingga pihak settlement

01 November 2011

Gunung Pangrango


Hari ini saya akan menceritakan pengalaman saya mendaki Gunung Pangrango bersama rekan-rekan dari bank tetangga. Perjalanan ini berlangsung dari Jumat 16 September 2011 malam hingga 18 September 2011. Rencana ini cukup mendadak karena saya baru diberitahukan pada hari Senin. Perjalanan ini merupakan yang pertama kalinya di tahun ini. Seiring kesibukan karena pekerjaan serta masih mencari rekan2 baru yang hobi naik gunung juga yah jadinya baru bisa sekarang. Sebenarnya sebelumnya sudah sering memiliki rencana untuk naik gunung tapi yah rencana tinggal rencana.

Saya sangat antusias menyambut perjalanan ini. Perjalanan ini merupakan sarana refreshing yang tepat di tengah kesibukan kerja. Rencananya tim akan berangkat hari Jumat. Padahal hari Jumat masih hari kerja. Jadi terpaksa saya harus menyusul sendiri. Perlengkapan yang dibawa pun hanya seadanya saja. Pada hari Jumat itu saya langsung berusaha pulang secepat mungkin. Itu pun baru bisa keluar pukul 7 malam. Sesampainya di rumah, bisikan setan mulai melenakan saya. Kayaknya lebih asyik menghabiskan waktu di tempat tidur yang nyaman ini daripada capek2 naik gunung.

Tidaaaak. Saya kembali bergegas packing dan tak lupa juga membawa makanan secukupnya. Makanan yang saya bawa cukup simpel yaitu beras, sardines ukuran besar 9 buah, aqua 2 liter. Ya itu saja. Tapi beratnya sudah kayak bawa carrier. Saya baru meninggalkan rumah pukul 10.30 malam. Dan naik bus dari kampung rambutan pukul 23.30. Untung saja masih ada bus.

Sepanjang perjalanan ini saya pun tertidur sambil menyiapkan tenaga untuk pendakian besok. Perjalanan berlangsung kurang lebih 3 jam hingga Cibodas. Satu kebiasaan buruk saya yang kali ini kembali terjadi adalah ketiduran di bus sehingga sering kelewatan. Kali ini pun hal ii kembali terjadi. Untungnya kelewatannya tidak terlalu jauh. Dari simpang Cibodas ke atas saya menggunakan ojek dengan biaya 15 ribu. Bisa dibayangkan di daerah puncak malam2 naik ojek gimana coba dinginnya ^_^.

Akhirnya sampai juga di Cibodas, dan bertemu dengan rekan2 yang lain. Jumlah anggota perjalanan kali ini pun cukup banyak yaitu ada 13 orang. Pesertanya terdiri dari saya, Zaki, Ilyas, Wira, Ujang, Bram, Bambang, Oki, Irawan, Sukri, Adi, Tomy serta 1 orang cewe yaitu Lia. Semuanya anak BRI cuy kecuali saya. Hehehe. Sebagian peserta tidur di warung sedangkan sebagian lainnya sudah duluan ke basecamp green ranger. Saya pun menyempatkan diri untuk tidur2 kucing sebentar sambil menunggu pagi.

Pagi pun tiba. Kami bergegas untuk bersih2 dan sarapan pagi sebelum kembali berkumpul dengan teman2 lain di markas green ranger. Disana, kami mengurus perizinan dan segera memulai pendakian. HEELLL YEEAAAHH!!!! PANGRANGO HERE WE COME..,          

Kami pun memulai pendakian melewati pintu masuk Cibodas yang sudah kesekian kalinya saya lakukan. Tempo perjalanan kali ini lebih cepat dibandingkan dengan perjalanan sebelumnya. Target kami hari ini bisa sampai Pangrango atau minimal bisa ngecamp di kandang badak. Secara ritme perjalanan kali ini berlangsung cukup cepat. Alhasil pukul 9 kami telah tiba di Air Terjun Cibereum. Sekitar setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Saat melihat mas Irawan sedikit kepayahan, saya pun bertukar tas dengan dia. Eh ternyata berat carriernya ga jauh beda dengan berat tas saya ^_^. Padahal saya cuma bawa air 2, sardines besar 9 kaleng, serta beras. Baru kali ini saya melakukan perjalanan ke Gede cuma membawa ransel. Ya sudahlah.

Perjalanan berikutnya menuju shelter air panas. Di sini saya mulai kepayahan. Namun saya tetap mampu berjalan di barisan depan. Rencananya tim yang duluan akan menyiapkan makanan untuk tim yang berjalan lebih lambat. Baru sekitar pukul 12 kami akhirnya tiba di air panas. Di shelter ini ada pemandangan yang sangat menarik. Ada 2 orang cewe bule hanya menggunakan BH dan celana dalam saja sedang berendam di air panas. Wow cukup banyak pendaki yang berhenti untuk melihat hal ini. Ckckck Indonesia.., Indonesia..,

Setelah makan siang dan puas menonton bule ^_^ akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Tapi apa daya ternyata fisik saya sudah parah separah-parahnya. Membawa carrier yang cukup berat ini serta fisik yang agak lemah karena kurang istirahat membuat saya tepar. Bahkan saya berpikir untuk sampai kandang badak saja karena fisik saya sudah drop sekali. Akhirnya saya bertukaran carrier dengan zaki. Ternyata carriernya enteng sekali. Bahkan masih lebih berat ransel saya.

Sekitar jam 4 kami tiba di shelter kandang badak. Kami pun segera mendirikan camp di tempat ini. Dari 3 tenda yang kami bawa, ternyata 1 rusak sehingga harus ada yang rela tidur di luar. Saya pun mengajukan diri untuk tidur di luar. Padahal saya ga ada sleeping bag. Cari mati siy emang. Tapi ya seperti biasa santaiii aja ^_^. Syukurlah cuaca sangat mendukung dalam perjalanan kami kali ini. Sepanjang malam cuacanya cerah. Tapi dinginnya itu ga nahan banget. Apalagi saya tidur beratapkan flying sheet serta tidak menggunakan sleeping bag hanya kantong mayat. Eh ternyata kantong mayatnya basah karena kena embun. Amsyong lah saya.

Pukul 1 rencananya kami akan melakukan summit attack. Sementara 2 orang yang terlihat kurang enak badan akan menjaga basecamp. Namun ternyata kami ngaret hingga jam 2.30. Mungkin karena fisik kami yang sudah terlalu lelah. Akhirnya setelah berdoa hati kami mantap untuk segera melaksanakan summit attack. Saya berjalan paling depan untuk membuka jalan. Ehh baru beberapa ratus meter kami berjalan Lia memutuskan untuk tidak ikut summit attack dikarenakan nafasnya yang sesak. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan bersepuluh menuju puncak.

Ternyata walaupun kami tidak membawa carrier, tetap saja perjalanan menuju puncak pangrango ini sangat berat. bahkan menurut saya lebih berat dibandingkan ke puncak gunung gede. Untungnya meskipun berjalan pada malam hari, tapi jalurnya masih jelas terlihat. Kami pun tidak sendirian mendaki puncak Pangrango karena ada beberapa kelompok juga yang turut mendaki. Butuh waktu hingga 3 jam sebelum akhirnya kami tiba di Puncak Pangrango. Saat itu matahari sudah terbit sedikit.

Pemandangan di puncak Pangrango jauh berbeda dibandingkan dengan Puncak Gede. Tidak ada kawah seperti yang terdapat di gunung Gede. Di puncak ini juga ada tugu triangulasi yang sudah banyak ditempeli galeri vandalisme. Di puncak kami menyempatkan diri untuk beristirahat dan makan pagi sebelum kembali turun. Kemudian saya pamit sebentar kepada kelompok ini untuk menuju lembah Mandalawangi. Tempat yang selama ini hanya ada di angan2 saya. Lembah yang telah membius sekian banyak pendaki untuk mencapainya.

Akhirnya tibalah saya seorang diri di Lembah Mandalawangi. Sepi.., Sunyi.., Dingin.., Tapi inilah tempat yang telang saya mimpikan dari lama. Akhirnya kesampaian juga bisa melihat tempat ini. Sebuah padang edelweiss yang dikelilingi oleh bukit-bukit. Sunyi sekali tempat ini. Cuma ada sekitar 5 orang pada saat itu. Saya menyempatkan untuk tiduran sejenak. Tapi karena dingin banget dan takut terlena akhirnya saya balik lagi ke puncak.

Seusai menikmati sarapan pagi dan foto, kami kembali ke kandang badak. Akhirnya sekitar pukul 9 kami telah kembali lagi ke kandang badak disambut dengan rekan-rekan lain yang tidak ikut naik. Pukul 11 kami segera turun meninggalkan kandang badak dan kembali ke basecamp green ranger. Di tengah perjalanan mulai turun hujan rintik-rintik. Sayangnya pada perjalanan kali ini saya tidak ke air terjun Cibereum.

Pukul 4an kami tiba di basecamp green ranger untuk beristirahat dan bersih-bersih sejenak sambil menunggu hujan reda. Hingga akhirnya kami pun pamit dan memulai perjalanan menuju ke Jakarta. Sayangnya diakibatkan ada kecelakaan di daerah Ciawi menyebabkan  lalu lintas macet total. Kami baru sampai di Jakarta sekitar pukul 01.30 dini hari.

Begitu sampai di BRI, saya langsung pamit dengan rekan-rekan perjalanan dan pulang menggunakan taksi. Akhirnya pukul 1 saya tiba di rumah. Lekas2 istirahat karena besok pagi2 harus udah bikin mormet. Wkwkwkwk.