- Jadi manager
- Mengunjungi 5 tempat baru
- Membeli 5 buah buku dan membacanya
Don`t Take Anything but the Story
Sejenak kaupun menoleh ke belakang Oh., pematang itu tak terlihat lagi, Bukit hijau menggugah jiwa… Tiada yang sia-sia selama ini, Tiada yang lenyap musnah Segalanya telah melahirkan makna mendalam …….
30 Desember 2021
16 Oktober 2021
MENUMBUHKAN BUDAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) DI LINGKUNGAN KERJA
Budaya kesehatan dan keselamatan kerja (K3) merupakan perilaku, kepercayaan, persepsi, dan nilai yang disepakati secara bersama yang berkenaan dengan keselamatan kerja. Dimana budaya keselamatan kerja diterapkan untuk mencapai performa K3 yang dijadikan prioritas utama dalam suatu perusahaan. Ada banyak bahaya ditempat kerja yang beresiko sebagai penyebab penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja ini terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lemahnya kontrol manajemen K3 terhadap kegiatan kerja, keterbatasan kemampuan pekerja, perbuatan dan kondisi yang tidak aman.
Budaya kesehatan dan keselamatan kerja pada perusahaan sangat dibutuhkan terlebih pada PT. Inalum agar mengurangi tingkat penyakit dan kecelakaan akibat bekerja. Setiap insan Inalum harus menyadari betapa pentingnya K3 di lingkungan kerja, penyakit ataupun kecelakaan akibat bekerja sangat merugikan banyak pihak. Kerugian yang sangat berdampak yaitu diri pribadi sebagai pekerja yang sementara waktu atau bahkan selamanya tidak dapat bekerja kembali, hal ini pastinya juga akan berdampak pada keluarga. Perusahaan yang terganggu produksinya, kehilangan konsumen akibat K3 di tempat kerja lemah dan banyak lagi akibat dari kecalakaan kerja lainnya. Oleh karena itu, budaya K3 harus ditumbuhkan disetiap insan Inalum.
Di gedung reduksi sendiri sangat banyak potensi bahaya yang sewaktu-waktu dapat mencelakai pekerja. Beberapa hal yang dapat dilakukan pekerja sebagai pencegahan terjadinya kecelakaan kerja diantaranya:
1. Mengetahui
setiap potensi bahaya yang dapat terjadi
Suatu
tempat kerja akan memiliki potensi bahaya yang berbeda dari tempat kerja
lainnya. Ini bisa dipahami karena kondisi tempat kerja yang berbeda beda.
Namun, biasanya akan ada kesamaan pada potensi bahaya tertentu. Kategori
potensi bahaya tersebut meliputi :
a.
Biologis
Potensi bahaya yang termasuk dalam kategori ini yaitu
bahaya yang ditimbulkan oleh virus, bakteri dan serangga.
b.
Kimia
Kimia atau bahan berbahaya dan beracun merupakan potensi
bahaya kimia yang paling umum ditemukan ditempat kerja tingkat potensi bahaya
yang termasuk dalam kategori kimia tergantung dari sifat atau karakteristik
bahan kimia seperti bahan yang mudah meledak, mudah terbakar, beracun,
oksidator dan lain lain.
c.
Fisik
Potensi bahaya yang termasuk dalam kategori ini dapat
berupa: radiasi, suhu yang tinggi atau sangat rendah, tekanan yang tinggi dapat
berupa gas dalam tabung.
d.
Ergonomis
Beberapa potensi bahaya yang tergolong ergonomis adalah:
pergerakan yang berlebihan dan berulang, posisi berdiri serta duduk yang
terlalu lama terlalu banyak menggunakan pengangkatan manual.
e.
Fsikososial
Diantara potensi bahaya yang masuk dalam kelompok ini
adalah: jam kerja shift malam adanya konflik pribadi, beban kerja yang terlalu
besar, komunikasi yang tidak berjalan baik.
Banyak
hal di gedung reduksi yang dapat dikategorikan sebagai potensi bahaya. Oleh
karena itu setiap insan Inalum harus memiliki pengetahuan untuk memahami hal apa
saja yang dianggap sebagai potensi bahaya.
2. Selalu
ikuti prosedur kerja
Setiap pekerjaan harus
dilengkapi dengan standard operating procedure (SOP). SOP
dibuat sudah dengan mempertimbangkan faktor keselamatan. Selalu ikuti prosedur
kerja, meskipun anda sudah terampil melakukannya. Menggunakan jalan
pintas dengan mengabaikan SOP sangat beresiko dan bisa jadi anda celaka
karenanya.
3.
Laporkan setiap
kondisi tidak aman
Kondisi tidak aman bisa
muncul kapan saja. Memang, tidak ada kecelakaan kerja yang terjadi
ketika menemukannya. Tapi, bisa jadi kondisi tidak
aman tersebut bisa menyebabkan kecelakaan kerja dan menimpa rekan kerja yang
tidak mengetahui kondisi tersebut. Maka, laporkan segera jika menemukan kondisi tidak
aman lebih cepat akan lebih baik, agar segera dilakukan
pengendalian bahaya.
4.
Pelihara kondisi peralatan kerja
Alat kerja yang tidak
layak
pakai bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan kerja dan akibatnya bisa sangat
fatal. Maka program pemeliharaan peralatan menjadi sangat penting untuk
dilakukan secara konsisten. Jangan lupa pula untuk melakukan pengecekan sebelum
digunakan, untuk memastikan kondisinya baik.
5.
Jangan memaksakan bekerja ketika tidak sehat
Kadang kala orang salah
persepsi. Karena ingin terlihat rajin, dalam kondisi kurang fit atau sehat pun
masih memaksakan bekerja. Tindakan seperti ini sungguh sangat beresiko. Bukan
hanya untuk yang bersangkutan, tapi dapat membahayakan orang lain. Minta ijin untuk
istirahat dan memulihkan kondisi kesehatan itu jauh lebih baik.
Hal-hal
yang telah disebutkan diatas harus dibiasakan agar menjadi sebuah budaya, dan upaya
itu dikatakan berhasil ketika tidak melakukanya merasa menjadi sebuah hal yang
tabu dan ada rasa yang kurang pada diri setiap pekerja.
04 Agustus 2021
PENCEGAHAN COVID-19 DILINGKUNGAN KERJA DAN SAFETY DALAM BEKERJA (ACHMAD FADLI)
Sebagaimana telah kita ketahui Bersama pandemi covid-19 telah banyak membawa dampak negativ diberbagai aspek kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari ekonomi, Pendidikan, pariwisata dan banyak lagi yang lainnya termasuk ruang gerak kita yang kian hari kian menyempit. Pemerintah pun semakin bingung, dengan tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Ditambah lagi dengan banyaknya tenaga medis dan tenaga kesehatan yang gugur saat menjalankan tugas yaitu menjadi garda terdepan melawan pandemi covid-19.
Sebagai perusahaan dibawah kementerian BUMN, PT.INALUM (persero) juga ikut serta dan berperan aktif dalam memerangi covid-19 dengan menerapkan berbagai macam protokol kesehatan di seluruh lingkungan perusahaan, mulai dari memakai masker, mencuci tangan, physical distancing, pengecekan suhu tubuh, self assessment bagi setiap karyawan yang bepergian keluar kota hingga pengawalan dan penjagaan ketat yang dilakukan di pos penjagaan Kuala Tanjung sampai pos pengamanan yang ada di komplek perumahan Tanjung Gading. Hal tersebut dilakukan guna menekan jumlah kasus covid-19 dan mencegah menyebarnya wabah virus covid-19
Kita patut memberikan apresiasi kepada perusahaan yang kita cintai ini karna telah mengawal kita dan menjaga kita dari virus covid-19 dengan cara mengikuti peraturan dan menerapkan protocol kesehatan. Kita sekarang sedang berperang melawan virus covid-19, jangan sampai virus covid-19 ini menggagu kelancaran operasi kita, karna disinilah kita mencari nafkah untuk keluarga dan semoga dengan menjaga protokol kesehatan di tempat kita bekerja dapat mencegah kita terpapar virus covid-19 agar kita senantiasa sehat dan tidak membawa virus tersebut saat kita pulang kerumah.
Dari semua kejadian dan selama peristiwa ini berlangsung saya ingin berbagi informasi kepada para pembaca, berbagi pengalaman dan berbagi pengetahuan bahwa sebenarnya protokol kesehatan yang kita jalankan ini bukalah sesuatu hal yang benar-benar baru dan bukan hanya sekedar untuk mengantisipasi diri kita dari virus covid-19 tersebut. Melainkan banyak hal positif lain yang bisa kita dapatkan. Dalam artikel ini saya akan jabarkan satu persatu agar para pembaca dapat dengan mudah memahami dan menggunakan logika berfikir agar dapat dengan senang hati menjalankan protokol kesehatan di tempat kita bekreja sehingga dapat meningkatkan kualitas safety kita dalam bekerja. Tanpa bertele-tele mari kita ulas satu persatu
1. memakai masker
Kita sama-sama mengetahui selama pandemi covid-19 ini berlangsung, masker sempat menjadi barang langka dan mahal dipasaran. Dampak postifnya banyak UKM yang tumbuh dan hidup dari industri masker. Ini terjadi karna tidak pekanya kita terhadap fungsi masker tersebut. Selama pandemi covid-19 belum terjadi sebenarnya masker adalah suatu barang yang wajib kita gunakan jika kita melihat dari fungsinya. Saya berikan beberapa contoh :
- Ketika berkendara menggunakan sepeda motor kita terhindar dari debu dan polusi udara ketika kita menggunakan masker.
- Ketika kita berada di tempat ramai seperti pasar, mall, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya kita juga terhindar dari penyakit menular lain seperti flu, demam dan bahkan virus TBC yang jauh lebih mematikan di bandingkan virus covid-19.
- Di tempat kita bekerja di pabrik peleburan khususnya di pot operasi masker adalah sebuah alat yang penting dan mampu mengurangi resiko kerja kita dari debu alumina dan respirator (masker gas) dapat mengurangi resiko kita terpapar gas HF.
Kita sepakat sebelum terjadinya pandemi covid-19 di dunia, kebersihan adalah sebagian dari iman. Oke fix. Kebersihan adalah sebaaagian dari iman. Saya yakin semua agama, semua kepercayaan, semua ajaran yang kita dapat saat kita TK, SD, SMP sampai Pendidikan tingkat atas tetap kebersihan adalah sebagian dari iman. Saya akan memberikan beberapa contoh sederhana agar para pembaca dapat dengan mudah memahaminya.
- Masih ingat perintah yang disuruh orang tua kita saat kita masih anak-anak? Mandi dua kali sehari. Sebelum beraktifitas dan sesudah beraktifas. Dan saya rasa itu juga masih kita terpakan sampai sekarang ini. Tanpa kita sadari selain menyegarkan badan hal tersebut juga telah membersihkan badan kita dari virus, mau itu virus covid-19 dan banyak lagi virus lain diluar sana.
- dalam ajaran agama Islam, ummat islam di perintahkan untuk melaksanakan Shalat wajib lima kali dalam sehari. Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Sebelum menunaikan ibadah Shalat ummat islam diwajibkan untuk melaksanakan protokol Allah SWT yaitu wudhu’. Para pembaca tahu wudhu’kan? Dan mungkin pembaca lain yang bukan beragama islam mungkin juga tahu kebiasaan ummat islam sebelum melaksanakan ibadah Shalat.
3. Physical Distancing
Menjaga jarak bukanlah suatu hal yang sulit, saya juga yakin para pembaca tidak suka berdesakan atau berdempetan saat duduk atau sedang antri. Pada dasarnya kita semua ingin suasana yang lapang dan lega. Terutama di tempat kita bekerja, di stasiun contohnya. Duduk berdempetan saat toolbox meeting akan membuat kita sulit untuk menulis informasi. Duduk berdempetan saat kembali dari dari lapangan yang panasnya kita sama-sama ketahui, saya yakin kita pasti menghindarinya. Karna kita sama-sama membutuhkan udara segar. Hal ini bukan semata-mata karna virus covid-19 tetapi memang karna kebutuhan kita. Bahkan bahaya lain yang lebih berbahaya ketika kita berukar keringat karna tidak menjaga jarak juga ada. Kita bisa tertular penyakit kulit dan macam- macam penyakit lainnya yang dapat menular dari keringat.
Saya yakin kita semua peduli akan pentingnya kesehatan dan kesehatan sangatlah mahal dan tidak ternilai harganya. Jadi marilah kita senantiasa menjaga kesahatan dan saling mengingatkan dengan rekan kerja kita untuk tetap mematuhi protokol kesehatan dan terus meningkatkan kualitas safety kita dalam bekerja.
Karna kesehatan adalah satu faktor yang sangat besar kaitannya dengan kualitas safety kita saat bekerja. Saya berikan satu contoh. Ketika pergi keluar rumah tanpa menjalankan protokol kesehatan, tanpa kita sadari, kita telah terpapar virus, baik itu virus covid-19 atau bukan, misalnya Batuk, flu, demam yang membuat kita menjadi pusing. Di sisi lain kita masuk shift 1 dan schedule kita adalah craneman. Kita bisa sama-sama membayangkan betapa bahayanya ketika kita kehilangan fokus saat mengoperasikan crane. Layakkah kita disebut berperilaku safety? Apakah kita mau membahayakan diri kita dan rekan sekerja kita hanya karna hal sepele yaitu melanggar protokol kesahatan? Tentu tidak. Saya yakin kita semua benar-benar paham tentang safety dan kualitas safety kita tidak perlu diragukan lagi.
Demikianlah artikel singkat ini saya tulis dan saya rangkum dalam tiga protokol kesehatan yang umum di jalankan di berbagai tempat. Semoga lewat artikel ini para pembaca dapat menerapkan protokol kesehatan dimana pun anda berada, khususnya di tempat kita bekerja. Dan semoga para pembaca dapat mengerti pentingnya menerapkan protokol kesehatan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua, apabila ada kesalahan dalam penulisan kata saya memohon maaf. Dan ayo sama-sama kita perangi pandemi covid-19.
17 Juli 2021
naik gunung sibayak sama istri
COVID-19 DI BUAT MENAKUTKAN
Pandemi COVID-19 memberikan banyak pelajaran bagi seluruh warga dunia. Saat ini, tiap orang melakukan usaha terbaik demi menghindari risiko terinfeksi COVID-19. Sudah seharusnya kita lebih patuh terhadap protokol kesehatan yang telah ditentukan Pemerintah Indonesia. Protokol kesehatan ini ditujukan untuk mencegah penularan virus corona dan meminimalisir bertambahnya angka kasus infeksi.
Protokol kesehatan tersebut meliputi menggunakan masker, rajin mencuci
tangan, serta wajib menjaga jarak. Hal ini bukanlah hal yang mudah, karena
bukan merupakan suatu kebiasaan untuk kita semua.
Namun di tengah lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia, masih banyak masyarakat
yang abai terhadap protokol
kesehatan. Tidak
sedikit masyarakat yang terlihat tidak mengenakan masker dalam berkegiatan
sehari-hari. Penerapan menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan
menggunakan sabun (3M) oleh masyarakat mulai agak menurun karena masyarakat
Indonesia bersifat komunal sehingga sosialisasi dan interaksi dengan banyak orang
tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan perilaku ini
terjadi akibat ketidakjelasan berakhirnya pandemi. Salah satu hal lagi yang
menyebabkan kelelahan masyarakat yaitu situasi ekonomi di tingkat keluarga, dan
media yang terkesan menakuti masyarakat. Di sosial media
Ketika berita-berita tersebut menjadi unggahan di media sosial, pasti ada
komentar warganet yang membuat semua orang termenung. Bahkan ada bahasa “Jangan
apa-apa dicovidkan. Tetangga masuk rumah sakit disebut Covid-19. Paman sakit
jantung disebut Covid-19. Entah apalagi disebut Covid-19 semua”
Kenapa harus takut? Karena kenyataannya ketika ada kasus positif
Covid-19, stigma mengalahkan upaya penelusuran kasus. Di Indonesia ketika ada
kasus positif Covid-19, upaya pelacakan terbatas hanya sampai ke lima orang
saja. Padahal dalam satu hari, seseorang yang berkegiatan di luar rumah sangat
mungkin bertemu dengan lebih dari lima orang.
Ketakutan kesakitan karena tes swab, mengalahkan ketakutannya bila memang
terdeteksi positif Covid-19 dan menularkannya ke anggota keluarga serumah yang
rentan.
Upaya mengkomunikasikan bahaya
Covid-19 memang tidak mudah. Bukan cuma di Tanah Air, di negara lain saja masih
banyak anggota masyarakat yang bandel. Menganggap Covid-19 tidak ada. Sampai
memilih tidak mau dibelenggu oleh penggunaan masker.
Mungkin lebih baik kita ketakutan, takut yang logis, supaya kewaspadaan
itu selalu dijaga. Supaya ketika harus bekerja keluar rumah, atau sekadar ke
warung di kompleks, protokol kesehatan tetap di terapkan.
16 Juli 2021
Menumbuhkan Komitmen Untuk Menerapkan Protokol Kesehatan (Septian Arisandi)
Sudah tidak asing lagi bagi kita sekarang ini mendengar istilah virus corona atau covid-19 (corona virus disease 2019). Virus yang menyerang sistem pernapasan ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya dalam waktu beberapa bulan.
Di Indonesia, berbagai sektor terkena dampak yang signifikan akibat dari virus ini. Seperti sektor usaha, jasa, perkantoran, pendidikan, industri dan lainnya. Hal ini pun juga terjadi di PT Inalum. Beberapa pegawai terinfeksi virus ini dan menimbulkan dampak terhadap proses produksi di PT Inalum.
Berbagai upaya dilakukan manajemen perusahaan agar virus corona tidak menjadi wabah di lingkungan PT Inalum. Penerapan protokol kesehatan yang ketat di smelter dan lingkungan perumahan diharapkan mampu menekan penyebaran virus ini. Selain itu, mobilitas untuk keluar kota juga dibatasi. Beberapa kali juga dilakukan lockdown di komplek perumahan.
Protokol kesehatan yang diterapkan seperti menggunakan masker yang menutupi hidung dan mulut, menerapkan physical distancing dengan menjaga jarak minimal 1 meter, membersihkan/mencuci tangan secara berkala, menjauhi kerumunan, serta mengurangi mobilitas.
Upaya ini akan berhasil jika adanya dukungan dari setiap pegawai. Setiap pegawai harus memiliki komitmen untuk senantiasa menerapkan protokol kesehatan dalam keseharian. Saling mengingatkan antar sesama dan memberikan teguran jika ditemukan ada yang melanggar.
Penerapan protokol kesehatan khususnya di seksi SRO sudah cukup baik. Namun, masih terdapat beberapa hal yang harus diperbaiki. Misal, saat melakukan face scan di jam masuk dan pulang kerja, sering ditemukan pegawai antri tanpa menjaga jarak antar sesama. Hal ini bisa diperbaiki dengan memberi tanda jarak di lantai. Atau bisa diperbaiki dengan memperbanyak jumlah alat face scan.
Tidak hanya terkait penerapan protokol kesehatan saja, tapi juga ketersediaan alat kebersihan. Misal ketersediaan hand sanitizer di ruang stasiun. Kurangnya komunikasi pihak yang melakukan penggantian sehingga menyebabkan hand sanitizer dalam kondisi kosong untuk beberapa waktu.
Perilaku dari manusianya sendiri juga menjadi sorotan. Kebiasaan memegang peralatan umum dengan tangan secara bergantian. Seperti gagang pintu, pegangan tangga, meja, kursi, dan lainnya. Ini merupakan salah satu faktor penyebab menularnya virus covid-19. Untuk mengatasinya, hindari memegang peralatan umum dengan tangan dan rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer.
Setiap pegawai harus menjaga kondisi kesehatan tubuh dengan melakukan beberapa hal seperti istirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan bergizi, melakukan olah raga, meminum vitamin dan sebagainya. Hal-hal seperti inilah yang harus menjadi perhatian bersama. Perbaikan-perbaikan kecil yang akan menimbulkan dampak besar. Bersama-sama saling menjaga diri dan berjuang untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19 khususnya di lingkungan PT Inalum.
18 November 2020
curhatan leadership
Mimpi tentang leadership
Saya selalu berusaha untuk memberikan contoh yang baik bagi anggota, rekan sejawat, maupun atasan saya. Tanpa berusaha menjadikan diri saya sebagai panutan. Saya selalu berusaha untuk melakukan segala sesuatu denngan ikhlas. Saya berusaha untuk mencapai target yang dibebankan ke tim saya tanpa terlihat terlalu ambisius sekali. Ada satu orang di bawah yang menurut saya cukup kompeten dan juga menunjukkan bakat menjadi leader tapi masih ada 7 orang lagi yang saya berharap juga bisa mengikuti jejak satu orang ini.
Saya ingin mempunyai sebuah kenangan yang saya tinggalkan di tempat ini. Maksudnya ketika suatu hari saya dipindahkan orang masih mengingat saya tentang suatu hal yang baik dan bisa mereka teruskan kembali.
Perjalanan berkarir
Sebelum bekerja di Inalum saya sempat bekerja di Bank Mandiri (ODP) selama 4 tahun. Saya ditempatkan di Jakarta, Medan, terakhir di Pekanbaru di bagian Treasury. Kemudian saya masuk Inalum di 2014 dan bekerja di seksi SRO (smelter reduction operation). Awalnya saya masuk sebagai assistant officer di situ saya masih belajar. Kemudian saya menjadi assistant superintendent dan terakhir saya naik jabatan menjadi superintendent senior/coordinator yang tugasnya membawahi assistant superintendent dan superintendent serta melapor kepada junior manager. Saya membawahi 8 orang staf di mana masing-masing staf juga membawahi 10 orang anggota. Selain pekerjaan rutin saya juga diberi penugasan masuk ke tim kerja dan alhamdulillah hingga sekarang tim kerja yang saya ikuti hampir selalu mencapai target.
Kasus leadership
Ada beberapa kondisi dimana sering terjadi pertentangan antara saya dan junior manager. Dimana kami berbeda pendapat terkait suatu hal. Contohnya ada yang namanya pot high purity metal dimana untuk mendapatkan hal tersebut menurut saya pengotor di pot harus dikurangi. Di satu sisi pengotor tersebut memang harus dihabiskan suatu saat nanti. Saya sebenarnya tidak masalah tapi nanti tiba-tiba beliau bertanya kenapa target pot high purity metalnya tidak tercapai terpaksa perlu saya jelaskan lagi.
Curhatan tentang leadership
Jujur saya masih perlu belajar banyak terkait leadership. Sebab ketika di mandiri dulu selama 4 tahun saya terbiasa bekerja sendiri menaggungjawabi pekerjaan saya sedangkan sekarang di Inalum pekerjaan dilakukan oleh anggota saya. Saya disini lebih bersifat sebagai supervisi. Apalagi teknologi yang dimiliki Inalum masih teknologi lama sehingga kualitas dari suatu pekerjaan masih bergantung dari pekerjaan fisik yang dilakukan seseorang.
Terkadang saya harus konflik langsung dengan atasan saya terkait suatu hal. Namun saya tidak takut melakukan hal tersebut. Serta ada kondisi ketika pekerjaan yang saya lakukan diinterupt oleh atasan biasanya saya langsung loss aja silahkan kerjakan sendiri.
Terkadang pun saya masih merasa khawatir apabila keputusan yang saya ambil salah. Dimana terkadang apabila bawahan menanyakan sesuatu kepada saya agar terlihat berkompeten saya langsung berusaha menjawabnya ternyata ketika setelahnya dipikirkan kemudian sepertinya jawaban yang saya berikan salah sehingga terpaksa saya harus mengoreksinya kembali.
Hal lain adalah sering kali seksi saya membuat kebijaan di seksi sendiri yang mengharuskan seksi lain untuk mengikuti kebijakan tersebut ketika sedang berada di seksi saya. Saya sempat konfrontasi juga dengan pegawai seksi lain terkait hal tersebut tetapi saya bersyukur karena saya masih di back up oleh seksi saya.
Dulu saya di Mandiri sering mentraktir anggota saya apabila kami berhasil mencapai sesuatu sebagai bentuk apresiasi dan membuat hubungan semakin akrab. Tapi di Inalum saya merasa belum bisa melakukan hal yang sama karena menurut saya itu bisa jadi melangkahi atasan saya nanti ketika saya menjadi JM saya mungkin akan melakukan hal tersebut lagi.
Rencana pengembangan diri
Dulu sebelum punya anak saya masih sering beli buku di gramedia (walaupun kebanyakan novel dan buku biografi) kemudian membacanya. Tapi sekarang sudah susah sekali mungkin ketika nanti anak-anak saya sudah besar saya akan kembali mulai membaca buku. Kemudian saya suka berinvestasi dulu saya sempat bermain saham sekarang tidak lagi saya juga mempelajari hal-hal terkait perkebunan, perikanan, hal –hal yang nantinya saya berharap menjadi investasi saya di hari tua nanti. Kemudian saya cenderung kurang prokaktif terkait pekerjaan kantor tapi apabila saya diminta untuk melakukan sesuatu saya akan mempelajarinya sebaik mungkin dan kemudian berusaha memberikan output yang maksimal. Kemudian karena saya menyukai data saya selalu berusaha melakukan analisis terkait suatu hal dan mencari jalan penyebabnya. Saya juga selalu berusaha melakukan improvement sekecil apapun dari analisis yang saya lakukan. Permasalahannya yang juga sering menjadi keluhan atasan saya adalah saya jarang menyampaikan serta mencatat perubahan yang saya lakukan serta tidak menyampaikan apa-apa saja yang saya ubah sehingga dikhawatirkan format asli dari sesuatu bisa hilang. Tapi saya berusaha merubahnya sekarang.
01 September 2020
tugas leadership 1
Saya sempat beberapa kali berganti leader di seksi saya mulai dari yang bertipe tegas dan terbuka, pendiam tapi detail soal data, pendiam dan terkesan tidak disukai bawahan, hingga yang tipenya pemimpin yang baru pindah jadi masih baru belajar banyak tapi cukup terkenal di luar. Dari semuanya saya mengambil pelajaran dari berbagai tipe dan berusaha untuk melakukan yang terbaik.
Leader saya secara langsung juga cukup tegas bahkan cenderung galak, memiliki pengetahuan yang luas (mungkin yang terbaik saat ini di seksi). Saya juga belajar banyak hal dari beliau terkait bagaimana memimpin orang.
Saya mengkoordinir 8 orang staf di mana masing-masing staf memiliki 10 orang anggota jadi secara total ada 90 orang. Setiap tim saya bagi dimana agar kekuatan setiap tim merata seadil yang saya bisa. Pendekatan terhadap setiap staf juga berbeda-beda tergantung skill dan will nya. Sedangkan ke bawahnya lagi untuk 80 orang operator, agar instruksi dapat berjalan saya hanya memegang kepala-kepalanya (terutama yang senior) saja harapannya dengan begitu instrusi ke yang lain bisa jalan.
Sebelum bekerja di Inalum saya bekerja di bank selama 4 tahun, disitu gaya kepemimpinan saya adalah cenderung santai dan ceria. Sebab saat itu anggota saya tidak banyak dan banyak pekerjaan memang langsung ditangani sendiri. Sehingga saya tinggal focus dengan apa yang saya kerjakan sehingga bila ada kesalahan memang mutlak kesalahan saya.
Tapi sekarang di Inalum di mana saya memiliki banyak anggota dimana tugas utamanya adalah supervisi pekerjaan yang dilakukan oleh anggota. Apalagi kualitas pekerjaan yang dilakukan sangat ditentukan oleh kualitas pekerjaan ditambah peralatan yang kondisinya sudah tua maka harus dilakukan control yang sangat ketat.
Dimana control itu juga seharusnya banyak dilakukan oleh 8 orang staf yang seharusnya menjadi tangan kanan saya. Dari pengamatan saya masih saya dapatkan staf yang kurang berani menegur bawahannya. Mungkin masih ada perasaan tidak enakan dan lain sebagainya. Jadi saya memutuskan untuk menggunakan tipe kepemimpinan yang tegas dan agak menjaga jarak secara umum. Hal ini ada dampak positif dan negatifnya.
Dampak positifnya adalah ada rasa takut dari anggota untuk melanggar peraturan sementara untuk dampak negatifnya adalah potline saya (kami ada 3 potline) terkesan paling tidak nyaman. Saya mengakalinya dengan beberapa kali saya memberikan challenge kepada mereka apabila dapat mendapatkan challenge tersebut maka ada reward uang yang saya berikan.
Apabila ada permasalahan saya coba untuk memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Tapi sebenarnya kebanyakan mereka hanya meminta persetujuan jadi apabila ada masalah saya tanyakan terlebih dahulu kira-kira solusi dari mereka apa kemudian saya melakukan justifikasi terkait keputusan yang dibuat.
Dikarenakan saya hanya bekerja dari pagi sampai sore saja tapi pabrik harus beroperasi 24 jam maka metode pengawasan yang juga saya terapkan adalah dengan membuat wa group yang focus untuk membahas safety. Jadi saya usakahan sesering mungkin mengingatkan terkait safety kepada kawan2.
DIbandingkan dua potline yang lain Saya cenderung untuk membebaskan staf saya bekerja. Prinsip saya selama tidak ada accident ataupun sesuatu yang merugikan bagi perusahaan tidak masalah. Saya cenderung pendiam, tidak banyak bicara. Tapi saya menutupinya dengan sering ke lapangan sehingga saya tahu bagaimana mereka melakukan pekerjaan dan permasalahan apa yang mereka hadapi. Saya lebih sering melihat historis data dan dari situ saya membuat sebuah action plan. Saya tidak suka membangga-banggakan performance potline saya tapi apabila ada yang menyindir maka saya yang akan paling pedas untuk membalasnya.
Saya tidak suka ada intervensi terhadap pekerjaan yang saya lakukan. Apalagi yang menurut saya sudah benar saya lakukan. Hal ini beberapa kali terjadi yang dilakukan oleh leader saya. Biasanya apabila hal itu terjadi maka saya akan biarkan saja dia yang mengerjakan tidak saya campuri.
Saya cenderung suka tantangan. Saya tidak resistance bila ada hal-hal baru yang ingin dicoba. Apabila ad ates atau sebagainya biasanya dilakukan di tempat saya. Sebab sering terjadi banyak ketakutan apabila ada material baru yang ingin di tes dikhawatirkan dapat mempengaruhi performance tapi menurut saya apabila performance terganggu maka dari sisi kitalah yang harus beradaptasi dan melihat modifikasi apa yang harus dilakukan agar gangguan itu tidak terlalu parah.
Satu
kelemahan saya adalah inisiatif saya untuk mengajukan diri melakukan sesuatu
kurang. Saya lebih suka menunggu instruksi dari atasan untuk melakukan sesuatu.
Penyebabnya adalah saya tidak ingin terlihat terlalu berambisi dan saya pun
melihat harusnya ada pembagian merata terhadap tugas-tugas yang diberikan.
Namun apabila ada tugas yang diberikan kepada saya saya akan berusaha
melakukannya sebaik mungkin.
Karakter asli:
· 1. Suka tantangan
· 2. Suka kompetisi
· 3. Pendiam
· 4. Bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan
Attitude leadership yang ingin dibangun:
· 1. Menjadi orang yang menyenangkan
Kendala yang ditemui saat menerapkan leadership attitude tersebut:
· 1. Sudah dicap pendiam dan kaku dari bawahan
Langkah-langkah apa yang akan dilakukan untuk membangun attitude tersebut:
· 1. Lebih rajin lagi berlama-lama di stasiun untuk ngobrol dengan anggota
· 2. Berusahan menyelesaikan masalah yang menjadi keluhan anggota