11 Juni 2008

Surat Wasiat

Jika kamu pernah melihat sandiwara ?Peter Pan?, maka kamu akan ingat, mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum ia meninggal, karena ia takut, kalau-kalau ia tak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.
Demikianlah halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum akan meninggal, namun saat itu akan tiba bagiku juga. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri ????..
Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu. Oleh karena itu renungkanlah!

Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.
Saya yakin, bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri. Jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup, jika kamu kelak telah dewasa. Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya !

Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan pada suatu hal daripada mencari kejelekan-kejelekannya. Jalan nyata yang menuju kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar supaya kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba di dalamnya. Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas, karena kamu tak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu.

29 Mei 2008

Gunung Perbakti

Gunung Perbakti

3 Hari Bersama Anak Metal

Gunung perbakti merupakan gunung yang terletak di gugusan gunung Salak. Gunung ini tidak terlalu tinggi yaitu hanya sekitar 1700-an meter dpl. Gunung ini dikelilingi puncak gunung-gunung lain seperti gunung Endut dan gunung Salak. Gunung Perbakti dapat dicapai lewat 2 jalur jaitu dari Parakan Salak dan dari Cidahu. Tim perjalanan kali ini terdiri dari saya dan 3 orang rekan saya yaitu Jeni (K-273-08), Icon (K-271-08) dan Fiki (K-272-08) yang ketiganya berasal dari jurusan metalurgi. Perjalanan ini sebenarnya merupakan suatu proses pelantikan namun suasananya cukup santai.

Hari pertama

Di keberangkatan kami ternyata dipisah. di mana saya dan Icon berangkat dari stasiun Pocin sedangkan dua yang lain berangkat dari stasiun UI. Kami ditunggu di stasiun Parakan Salak pada pukul 11. Dari stasiun Pocin saya dan icon baru naik kereta pada pukul 6.48 dan tiba sekitar pukul 7.30 di stasiun Bogor. Dari stasiun Bogor kami sarapan terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan menuju terminal parung kuda dan tiba pukul 10.30. Di sana ternyata telah ada rekan kami yang lain yaitu si jengkol dan fiki. Lega juga rasanya tim sudah lengkap lagi. Setelah beristirahat sekitar sejam, mentor desmon datang dan mengajak kami melalukan perjalanan panjang.

Perjalanan yang dimulai di stasiun parakan salak mengikuti jalur jalan raya kemudian membelok memasuki tempat wisata. Di sini kemudian kami berjalan menyusuri kebun teh yang terus menanjak. Walaupun hanya berjalan santai, namun karena berupa tanjakan membuat kami menjadi cepat lelah. Setelah beberapa kali istirahat akhirnya kami tiba di persimpangan menuju perbakti sekitar pukul 2 siang. Disini mentor desmon memeriksa kemampuan navigasi darat dan orientasi medan kami. Kali ini nuansa pelantikan mulai terasa. Makanan yang kami bawa di periksa dan ternyata diperkirakan tidak cukup untuk seminggu. Kemudian kami diminta untuk mengeluarkan makanan yang kami punya dan membaginya secara sama rata. Saya pribadimerasa sangat beruntung karena sejujurnya saya hanya membawa mie sebanyak 10, roti cokelat chips (makanan favorit pastinya), dan minuman.

Instruksi dari mentor desmon adalah kami dusuruh untuk mencapai puncak perbakti sebelum jam 11 keesokan harinya. Kami hanya perlu mengikuti stream line berbentuk tali sepatu. Satu kesalahan yang sangat fatal di sini adalah mentor desmon lupa memberitahu bahwa kami cukup memutari punggungan terus ke atas. Kesalahan yang nantinya akan menjadi suatu yang cukup fatal. Sampai titik ini kemudian kami dilepas dan mulai berangkat.

Baiklah saya akan memperkenalkan dulu rekan2 perjalanan saya

Jennifer: Satu-satunya cewe di dalam tim, pintar, sedikit bawel, dapat meramaikan suasana, dan cukup kuat untuk ukuran cewe

Fiki: Salah satu cowo metal di dalam tim, jago bikin bivak, kemampuan navigasi cukup baik, kuat, dan yang terpenting jago masak.

Rickson hamonangan: anak metal juga, biasanya dipanggil icon atau con dongs, di balik sifatnya yang santai memiliki sifat kepemimpinan yang cukup baik, kuat.

Ok sekarang kami tinggal berempat tanpa mentor. Tau sendirikan apa yang bakal terjadi ^_^. Begitu tahu kalau kami diberi waktu sampai besok maka kami tidak terlalu memforsir tenaga kami, bahkan terkesan sangat santai… belum jauh kami berjalan kami sudah memutuskan untuk makan. Gunung perbakti jarang didaki orang sehingga tumbuhan tumbuh tinggi-tinggi dan sulit untuk menemukan tanah lapang. Begitu menemukan tanah lapang kami langsung bersiap2 siap makan. Jenni menyebut perjalanan ini sebagai perjalanan hore2. Sampai2 untuk makan saja kami butuh waktu hampir 1,5 jam. Bahkan awalnya kami berencana untuk NGECAMP di situ saja!!!

Akhirnya dengan ‘berat hati’, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya memutuskan bahwa mulai pukul 7 harus mulai mencari tempat untuk camp. Perjalanan berlangsung cukup mudah karena kami hanya cukup mengikuti stream line. Namun mendekati sore kami mendapat ‘masalah pertama’ yaitu menemukan percabangan yang tidak ada stream line nya. Kami memutuskan untuk mengikuti jalur yang termudah namun setelah beberapa saat ternyata jalannya terus menurun sampai akhirnya kami menemukan sungai. Hal ini cukup aneh karena dari instruksi mentor seharusnya tidak ada sumber air lagi hingga ke puncak. Namun karena sepertinya Cuma ada 1 jalur maka kami mencoba untuk meneruskan. Namun kondisi jalan yang ternyata cukup berat membuat kami berpikir kembali dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja.

Kami kembali dan mencari tanah lapang dulu untuk kemudian memutuskan langkah selanjutnya. Sambil memulihkan keadaan kami ternyata telah didatangi ‘teman2’ yang secara diam2 mulai menghisap darah kami. Ya apalagi kalau bukan pacet. Ketika melewati sungai ternyata pacet2 ini hinggap di kaki kami yang tidak terbungkus. Sepanjang perjalanan ini kami juga banyak menemukan kotoran babi sehingga kami mengasumsikan di sekitar kawasan gunung ini juga masih terdapat kawanan babi berkeliaran.

Sambil beristirahat kami juga mencoba mencari-cari jalur yang mungkin ada streamline-nya dan ternyata kami telah melewatkan satu streamline. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore sehingga waktu kami untuk mendaki tidak banyak lagi karena harus segera mendirikan bivak. BIVAK?? Ya bivak kami tidur di dalam bivak karena suasananya memang masih dalam suasana pelantikan. Tak lama kami berjalan kami menemukan banyak stream line di percabangan sehingga cukup memudahkan kami. Karena jalan ke puncak ini cukup mengikuti streamline yang ada maka kami memutuskan untuk beristirahat lebih cepat. Hal ini juga dikarenakan apabila matahari sudah terbenam akan sulit bagi kami untuk melihat stream line dan dapat berakibat fatal.

Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di suatu tanah lapang yang secara tidak sengaja ditemukan Fiki dan mendirikan bivak di sana. Pembagian tugasnya adalah Icon dan Fiki membuat bivak, jeni menyiapkan tali, dan saya sendiri membuat pasak. Pembuatan bivak ini berlangsung sekitar sejam –cukup lama karena hari yang mulai gelap-. Bentuk bivaknya pun merupakan suatu modifikasi yang cukup unik dimana digunakan konsep memanfaatkan lahan seluas mungkin dengan satu sisi bivak terbuka (ide fiki loo).

Selesai mendirikan bivak berarti sekarang waktunya untuk makan malam. Untuk urusan makan sendiri kami tidak perlu khawatir karena menu yang kami bawa cukup bervariasi walaupun minimalis. Perjalanan yang kami tempuh mungkin belum setengah dari total perjalanan ke puncak namun kami optimis bila kami berangkat besok pagi masih sempat sampai puncak sebelum jam 11 siang. Walaupun berasal dari jurusan yang berbeda namun tidak terdapat permasalahan komunikasi di antara kami berempat. Walaupun sebenarnya lebih asyik bila yang ikut lebih banyak lagi, perjalanan kali ini tetap akan menjadi sesuatu yang berkesan.

Hari kedua

Dari rencana awal bangun pukul setengah 6 ternyata kami baru bangun pukul 6 untuk selanjutnya bersiap-siap sarapan. Kondisi udara yang sangat dingin serta kondisi fisik yang tidak sefit kemarin membuat kami malas untuk bangun. Namun kami harus sesegera mungkin melanjutkan perjalanan karena mentor sudah menunggu di atas. Setelah selesai packing, perjalanan baru dilanjutkan sekitar pukul setengah 9.

Jalur yang jelas serta tinggal mengikuti stream line membuat perjalanan ini terasa mudah. Biota tumbuhan di sepanjang jalur adalah tanaman pakis-pakisan, tumbuhan berduri, dan beberapa kali kami temukan pohon-pohon besar. Pepohonan yang ada cukup lebat serta perdu. Kondisi jalannya menanjak dengan sesekali turunan dan jurang kecil sehingga kami harus berhati-hati.

Sampai akhirnya tibalah kami di suatu tempat di mana stream line tiba-tiba terputus. Dari stream line terakhir ada beberapa cabang yang dapat dipakai. Kondisi di tengah hutan juga menyulitkan kami untuk melakukan navigasi darat. Kesalahan terbesar kami adalah kami menganggap bahwa puncak perbakti ada di puncakan di depan kami. Padahal sebenarnya kami sedang berada di PUNGGUNGAN PERBAKTI. Sehingga kami menganggap harus turun lembah terlebih dahulu untuk mencapai perbakti.

Dari beberapa jalur yang ada, jalur yang terlihat jelas adalah jalur turun ke bawah yang curam dan dipenuhi tumbuhan berduri. Akhirnya setelah menimbang beberapa saat kami pun memutuskan untuk memilih jalur tersebut. Ternyata jalur ini terus menurun sehingga membuat kami bingung mau dibawa kemana kami. Kami tidak terlalu khawatir karena di jalur ini juga terdapat stream line walaupun bukan streamline tali sepatu. Selain itu jalur yang kami ikuti terus menuju ke kiri yang secara logika akan membawa kami kembali ke suatu titik asal kami berangkat.

Di suatu tempat kami sempat berpapasan dengan tukang kayu (sekitar jam 11 siang dimana seharusnya kami sudah sampai di puncak Perbakti bertemu mentor) yang lewat. Ketika ditanya dimana puncak Perbakti jawaban tukang kayu tersebut malah menambah kebingungan kami. Dia (tukang kayu) menjawab bahwa puncak perbakti tinggal mengikuti jalur ini di mana juga dapat menuju pemukiman. Kami bertambah miris bahwa kami akan sampai ke puncak perbakti. Namun, bertemu dengan tukang kayu tadi menandakan satu hal bahwa kami tidak nyasar.

Setelah memutuskan beristirahat sebentar sambil makan siang, kami menghitung kondisi makanan kami dan air dimana kondisi air tinggal 5 liter. Kami memutuskan untuk terus mengikuti jalur karena apabila kembali jalur tanjakannya cukup curam. Jalur di depan kami terdapat banyak stream line (walaupun bukan stream line tali sepatu) sehingga kami merasa berada di jalur yang benar. Namun lagi-lagi terdapat masalah dimana kami menemukan persimpangan di mana di setiap persimpangan terdapat STREAM LINE!! Ditambah stream line ketika memasuki percabangan berarti ada 3 STREAM LINE DI 3 PERCABANGAN!!

Kami kembali dilanda keputusasaan dengan kondisi yang ada. Akhirnya icon dan fiki mencoba mensurvey dua percabangan tersebut. Sampai saat ini kami masih berpikir bahwa kami berada dipunggungan yang salah sehingga harus turun ke lembah untuk berpindah punggungan. Akhirnya kami mengambil salah satu cabang yang ternyata jalannya sangat curam dan berduri. Lagi-lagi timbul masalah karena ternyata ada 2 percabangan lagi yang dikedua-duanya terpasang stream line??!!!

Setengah putus asa kami kembali lagi ke titik awal dan mengambil cabang yang satu lagi. Setelah berjalan sekitar satu jam kami sampai di suatu tempat yang membuat kami senang sekaligus kesal. YA kami kembali ke titik awal kami berangkat!!! Senang karena berarti kami berarti tidak nyasar dan kemungkinan besar akan turun keesokan harinya dan kesal karena satu hari yang sangat melelahkan telah dilewati dengan sia-sia.

Akhirnya kami memutuskan untuk menunda waktu turun dan memilih untuk mulai menyiapkan base camp walaupun hari masih sore mengingat kondisi fisik kami yang mulai menurun. Karena kami tinggal turun besok maka kami memutuskan untuk beristirahat agak lebih lama untuk mengembalikan kondisi kami.

Hari ketiga

Saatnya kami bersiap-siap pulang. Bangun tidur yang rencananya pukul 6 ngaret hingga akhirnya kami baru selesai packing pukul 9. Nah pada saat kami sudah berpikiran untuk pulang, makan enak di terminal parakan salak, tiba-tiba datanglah mentor yang berniat untuk nge-SAR kami. What the F$%*K mentor yang datang adalah Satria dan Sutar. Mereka meminjam peta kami dan mulai melakukan navigasi darat.

Setelah menjelaskan kondisi yang kami alami sehari kemarin, kami diminta untuk melanjutkan perjalanan dengan di temani mentor. Sampai akhirnya kami bertemu stream line tali sepatu terakhir Sutar kemudian melakukan survey ke atas dan Satria ke bawah. Mentor-mentor tersebut menjelaskan sebenarnya kami hanya perlu memutari punggungan karena kami sudah berada di puncak punggungan dai Gunung perbakti. Ternyata Sutar berhasil menemukan jalur ke atas sehingga kami pun harus ikut ke atas. Dan betul saja kami kembali menemukan stream line merah di sana.

Jalur perjalanan juga berubah di mana jalurnya menanjak curam dan tumbuhan mulai renggang. Kondisi kami yang cukup lelah membuat kami menjadi cepat kelelahan. Saya pribadi merasa benar2 lelah karena saya benar2 tidak mengestimasi tenaga lagi untuk naik ke atas karena sudah berpikir untuk turun. Pukul 12 kami sudah tiba di puncak perbakti. Namun hanya sebentar kami beristirahat kami sudah harus turun lagi. Sebenarnya puncak perbakti tidak terlalu jelas karena lokasinya memanjang dan tidak ada plat yang menyambut kami seperti halnya gunung-gunung lain.

Jalur turun ke arah cidahu berbeda dengan jalur dari parakan salak. Kondisinya lebih mirip jalur gunung Putri bila ingin ke puncak gunung Gede. Perjalanan turun berlangsung cepat karena kami tidak beristirahat sama sekali sejak beristirahat di puncak. Sejaman kami berangkat akhirnya kami tiba di sungai dan bertemu dengan ‘mentor-mentor yang baik hati’. Selanjutnya nuansa pelantikan mulai terasa, sehingga saya cukupkan cerita perjalanannya sampai sini saja.

Ongkos

Stasiun ui depok-stasiun bogor=1500

Stasion bogor-terminal baranang siang=3000

Terminal baranang siang-terminal parung kuda=12000

Terminal parung kuda-terminal parakan salak=4000

9-11 Mei 2008

K-274-08

28 Mei 2008

Pergilah Anak Muda

Pergi dan terbang anak muda

Raih apa yang ingin kau capai

Pergilah ke suatu tempat

Di mana orang lain akan takut

Untuk pergi

Kau harus ke sana!

Tempat di mana tantangan

Membentang luas

Langit biru yang kau impikan

Kedamaian melekat di dalam hatimu

Tempat di mana tuhan terasa dekat

Dekat dengan langkahmu

Dekat dengan segenap rencanamu

Dekat dengan segenap kesulitanmu

Puaskan hasratmu dengan kebaikan

Pergi! Terbanglah…!

Jadikan masa mudamu baru kembali

Seperti burung rajawali

Tidak mudah bukan tidak mungkin

Kau harus pergi..! Pergilah anak muda!

Kau tak akan bisa ditahan lagi

Kau akan seperti mata air

Di puncak gunung

Yang harus turun mengalir di antara

Gunung-gunung

Melewati segala jeram, lereng,

Padang dan lembah

Seperti air mengalir di antara

Gunung-gunung

Seperti burung rajawali

Itu takdirmu!

01 Februari 2008

Doa seorang ayah

Doa seorang Ayah
 
Tuhanku, jadikanlah anakku
seorang yang cukup kuat mengetahui kelemahan dirinya
berani menghadapi kala ia takut
yang bangun dan tidak runduk dalam kekalahan yang tulus
serta rendah hati dan penyantun dalam kemenangan
 
Oh Tuhan, jadikanlah anakku
seorang yang tahu akan adanya Engkau
dan mengenal dirinya, sebagai dasar segala pengetahuan
 
Ya Tuhan, bimbinglah ia
bukan di jalan yang gampang dan mudah
tetapi di jalan penuh desakan, tantangan dan kesukaran
Ajarilah ia: agar ia sanggup berdiri tegak di tengah badai
dan belajar mengasihi mereka yang tidak berhasil
 
Ya Tuhan jadikanlah anakku
seorang yang berhati suci, bercita-cita luhur
sanggup memerintah dirinya sebelum memimpin orang lain
mengejar masa depan tanpa melupakan masa lalu
 
Sesudah semuanya membentuk dirinya
aku mohon ya Tuhan
Rahmatilah ia, dengan rasa humor
sehingga serius tak berlebihan
berilah kerendahan hati, kesederhanaan dan kesabaran
 
Ini semua ya Tuhan
dari kekuatan dan keagungan Mu itu
jika sudah demikian Tuhanku
beranilah aku berkata:
"Tak sia-sia hidup sebagai bapaknya"



by : Douglas Mc Arthur

30 Desember 2007

manusia dan alam

Di beberapa media mungkin pernah kita dengar berita seorang pendaki gunung A berhasil menaklukkan gunung B, ataupun seorang pemanjat B telah berhasil menaklukkan tebing D. Ada hal yang menggelitik hati penulis, apakah sehebat itukah manusia sehingga dapat menaklukkan alam ciptaan-Nya. Ataukah ini hanya sebuah manifestasi kesombongan manusia untuk menutupi betapa lemahnya ia dihadapan Allah SWT.

Coba kita bayangkan sejenak, apabila pendaki di atas bertemu hewan buas dalam perjalanannya, ataupun pemanjat yang ketika memanjat tiba-tiba ada batu besar jatuh dari atas. Apakah masih layak kalau disebut manusia dapat menandingi alam ini. Hal yang dapat dilakukan manusia hanyalah “memanfaatkan” segala sesuatu yang ada di alam untuk memenuhi kebutuhannya.

Penulis teringat dengan kata-kata bijak dari mahatma Gandhi sebagai berikut “Alam selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia, tapi alam tidak pernah cukup untuk memenuhi keserakahan satu orang manusia”.

Kenyataan yang ada sekarang adalah eksploitasi terhadap alam ini dilakukan oleh suatu pengaruh yang dinamakan globalisasi dimana pemilik modal dapat melakukan apa saja tanpa perlu memikirkan resiko tindakannya.

Tapi tak hanya itu sebenarnya. Kini banyak orang tahu, ketimpangan seperti itu hanya satu fakta yang gawat dan menyakitkan. Ada fakta lain: kelak ada sesuatu yang justru tak timpang, sesuatu yang sama: sakit dan kematian.

Konsumsi energi berbeda jauh antara di kalangan yang kaya dan kalangan miskin, tapi bumi yang dikuras adalah bumi yang satu, dan ozon yang rusak karena polusi ada di atas bumi yang satu, dengan akibat yang juga mengenai tubuh siapa saja termasuk mereka yang tak pernah minum kopi dalam mall, di sudut miskin di Flores atau Bangladesh, orang-orang yang justru tak ikut mengotori cuaca dan mengubah iklim dunia.

Dengan kata lain, tak ada pemerataan kenikmatan dan keserakahan, tapi ada pemerataan dalam hal penyakit kanker kulit yang akan menyerang dan air laut yang menelan pulau ketika bumi memanas dan kutub mencair. Orang India , yang rata-rata hanya mengkonsumsi energi 0,5 kW, akan mengalami bencana yang sama dengan orang Amerika, yang rata-rata menghabisi 11,4 kW.

Apakah keadaan ini masih dapat diubah?? Terlalu sulit.. terlalu sulit..

Mungkin memang terlalu sulit untuk menyelamatkan alam. Dalam catatan tahun 2002, emisi karbon dioksida dari seluruh Amerika Serikat mencapai 24% lebih dari seluruh emisi di dunia, sedangkan dari Vanuatu hanya 0,1%, tapi naiknya permukaan laut di masa depan akibat cairnya es di kutub utara mungkin akan menenggelamkan negeri di Lautan Teduh itu dan tak menenggelamkan Amerika.

Tapi akankah kita mau hidup di daerah di mana tak ada mall, tak ada barang-barang bagus namun menghasilkan limbah, tanpa segala sesuatu yang dapat memuaskan kebutuhan hidup namun mencemari alam, dan hidup hampir seperti seorang rahib ?

Terlalu sulit.. terlalu sulit..

25 Desember 2007

Cerita perjalanan

"It's easier to go down a hill than up it but the view is much better at the top." (Henry Ward Beecher)

LK.. Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar nama tersebut. Nama kost2-an di kutek?? Bukan,, tetapi LK adalah nama tebing yang tim Rock Climbing (selanjutnya kita sebut saja RC) KAPA FTUI coba tapaki. Terletak di selatan Malang tepatnya di desa dempok, gampingan, pagak., Tebing ini memiliki ketinggian sekitar 48 meter (di literature disebut tingginya 60 meter).

Banyak jalur yang terdapat di Tebing ini, namanya pun unik-unik seperti jalur doraemon, no mercy, happy birthday, no woman, no cry, gong setan (1 dan 2) dan masih banyak lagi lainnya yang kalau ditotal sekitar 25-an jalur. Karena berbagai keterbatasan, Kami hanya mengambil satu jalur yang langsung menuju puncak tebing yang bernama jalur long way.

Oh ya.. LK sendiri ada kepanjangannya tuh yaitu Lembah Kera. Kalau menurut cerita pemegang kuncinya tebing itu dinamakan begitu karena dulunya di daerah

tersebut banyak terdapat kera. Sekarang tebing ini banyak digunakan dalam pemanjatan dengan banyaknya jalur yang ada.

Tim RC yang berangkat kali ini ada 3 orang yaitu bang Sutar, Bang Doni dan saya sendiri Fathur. Sebenarnya anggota tim RC tidak hanya 3 orang saja. Namun karena satu dua hal tim yang ada pun harus dimaksimalkan. Ketua rombongan Divisi RC adalah Doni, dengan saya sebagai Pj peralatan, dan Sutar sebagai Bendahara.

Sebagai satu-satunya kura-kura muda, awalnya saya jiper juga harus berpartner dengan abang-abang pemanjat yang sudah berpengalaman ini, namun yang pasti saya mendapat banyak pelajaran berharga dalam perjalanan kali ini. Apalagi dalam 2 perjalanan sebelumnya kura-kura muda RC terdiri dari 3 orang yang biasa dijuluki the three musketeer (Fathur,Pringga, George) ^_^.

MP bersama ini berlangsung selama 8 hari namun untuk pemanjatannya sendiri hanya memakan waktu 3 hari.

Hari pertama

Akibat ngaret beberapa jam, pelepasan rombongan baru dilakukan pada pukul 2 sore. Tim besar (terdiri dari semua divisi) langsung menggang menuju stasiun Senen dan kemudian langsung lepas landas menuju Malang. Tim utama ini terdiri dari kepala operasional yaitu cheri, tim caving (Dwi, Zaki, Moro, Rangi), Gunung hutan (Rickson, Fiki), ORAD (SUnu, Muharrir, dan bima), serta tim GP eh sori maksudnya tim RC ^_^ (Sutar, Doni, dan fathur). Hari pertama lebih banyak dihabiskan diperjalanan karena perjalanan ke Malang sendiri menghabiskan waktu hampir 13 jam.

Hari Kedua

Kami tiba di malang sekitar pukul 11. Kami langsung menuju ke secretariat Impala Unibraw (digunakan sebagai base camp utama) yang terletak di jantung kota Malang. Hari pertama setibanya di sini lebih banyak diisi ramah tamah dengan anak Impala. Dan mencoba menghilangkan “trainlag” selama perjalanan.

Sore harinya diisi dengan sedikit berkeliling kampus unibraw dan dilanjutkan sedikit cuci mata ke matos (malang town square). Saya sendiri memilih untuk menetap di basecamp karena sedang “tidak enak badan” (alasan aslinya bisa ditanyakan langsung) ^_^.

Setelah makan malam dilakukan rapat evaluasi dan perencanaan tiap-tiap divisi. Doni yang bertindak sebagai ketua rombongan divisi RC memaparkan rencana kami selama 3 hari kedepan yang akan dimulai besok.

Hari ketiga

Saatnya berpetualang!!! Pada hari ini beberapa divisi mulai melakukan kegiatannya. Tim RC sendiri berangkat bersama divisi caving setelah sebelumnya tim GH berangkat saat shubuh. Sedangkan para oraders akan menyusul berangkat keesokan harinya. Perjalanan ke Lembah Kera kami lakukan menggunakan kendaraan umum dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. Sebagai pemandu jalan kami minta bantuan dari anak Impala yang dengan sangat simpatik membantu kami. Sebelum menuju ke tebing terlebih dahulu kami menemui juru kuncinya yaitu Pak Martono dan Bu Rukmini. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju ke tebing yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari pinggir jalan. Tebing lembah kera selain menjulang ke atas, juga melebar ke samping sehingga banyak spot-spot yang dapat digunakan untuk memanjat.

Dari siang hingga sore kami memanfaatkan waktu untuk beristirahat sekalian melihat-lihat jalur yang kami akan pakai. Suara Burhan (burung hantu) kemudian membangunkan kami dan menandakan malam hamper tiba sehingga kami harus segera membuat makan malam.

Malam pertama kami di LK diisi dengan rapat evaluasi dan selama sehari dan perencanaan untuk keeseokan harinya. Setelah berbagai pertimbangan kami memutuskan untuk menggunakan 2 pitch dengan target sampai di puncak. Dari bawah sampai pitch pertama yang ngelead adalah doni, dari pitch 1 hingga pitch 2 yang ngelead adalah Fathur, dan dari pitch ketiga hingga ke top kembali Doni. Sedangkan bang Sutar bertugas sebagai tim darat, pengatur snacking, resque, time keeper, dan dokumentasi. Dalam pemanjatan ini kami menggunakan strategi alpin tactic.

Hari keempat

Hari pemanjatan telah tiba. Setelah makan pagi yang dilanjutkan dengan checklist alat, kami pun bersiap-siap untuk memulai pemanjatan. Seperti biasa sebelum memanjat kami melakukan pemanasan terlebih dahulu kemudian berdoa, dan tak lupa yel KAPA. Sekitar jam 10 kami memulai pemanjatan. Walaupun awalnya sedikit mengalami kesulitan, namun Doni dapat dengan sigap melewatinya dan dalam sejam saja sudah sampai di pitch 1. Kemudian saya melakukan pemanjatan sekaligus ngeclean jalur yang dipakai. Baru 2 meter saya memanjat saya langsung mengalami scrambling. Padahal sebelumnya ketika masih di bawah saya sempat melakukan orientasi jalur. Namun setelah dicoba ternyata tidak semudah kelihatannya. Sekitar setengah jam kemudian baru saya dapat melewatinya dan kemudian menuju pitch 1 tidak lama kemudian. Dari pitch 1 ke tanah memiliki ketinggian 20 meter. Di sinilah perasaan gamang akan ketinggian saya muncul. Walaupun sudah dipastikan safety karena sudah memasang pengaman, badan saya masih terus gemetar. Apalagi memikirkan saya yang akan mendapatkan kesempatan untuk ngelead kemudian. Kemudian kami melanjutkan dengan saya sebagai leader menuju pitch 2 yang berjarak 20 meter dari pitch 1.

Lagi-lagi baru 2 meter saya memanjat saya kembali mengalami scrambling. Kali ini scrambling berlangsung hampir 2 jam. Untuk kali ini saya memutuskan menyerah dan tugas ngelead diberikan kepada Doni. Doni mampu melaksanakan tugasnya dengan baik dan sampai di pitch 2. Karena hari sudah semakin sore dan burung hantu mulai keluar dari sarangnya, maka pemanjatan diputuskan berhenti sampai di sini dan akan dilanjutkan besok.

Ketika sampai di bawah tim dokumentasi menyampaikan berita kurang sedap bahwa kamera yang tim miliki memiliki kendala sehingga hanya bisa digunakan untuk membuat video.

Hari keempat ini cukup melelahkan, namun dengan istirahat yang cukup kami optimis dapat sampai di top besok. Malam ini kembali ditutup dengan evaluasi dan perencanaan.

Pembicaraan pada malam itu tidak melulu diisi dengan seputar pemanjatan, namun juga ada pembicaraan tentang pribadi masing-masing. Kalau di teknik ada fortek (forum teknik) maka di KAPA juga ada fortek (forum tenda KAPA) ^_^.

Hari kelima

Pada hari kedua pemanjatan ini, kami akan meneruskan jalur yang telah dibuat sebelumnya untuk langsung mencapai top. Rencana untuk hari ini berubah, saya yang akan ngelead dari pitch 2 hingga puncak. Hari ini bang Sutar juga akan ikut memanjat. Doni memulai terlebih dahulu dengan melakukan jummaring hingga pitch 2 dilanjutkan oleh bang Sutar yang dipitch 1 nantinya akan ngelead ulang sambil menuju pitch 2. Sesampainya saya di pitch 1, saya kemudian membellay bang Sutar mulai ngelead hingga pitch 2 dengan Doni sebagai Bellayer. Setelah itu saya melanjutkan memanjat hingga pitch 2 sekaligus ngeclean. Akibat gamang yang saya alami, saya mendapat kesulitan untuk memanjat. Dengan dorongan “semangat” dari bang Sutar dan juga Doni saya dapat sampai di pitch 2 yang jaraknya hanya tinggal 8 meter dari top. Setelah sampai di pitch 2 kini tibalah giliran saya untuk memanjat hingga puncak. Secara umum proses ini tidak terlalu berkendala kecuali ketika ada sebuah kejadian yang mengagetkan dimana ketika sudah setengan jalan menuju puncak dari pitch 2 dan melewati sebuah gua tiba-tiba ada burung hantu yang tiba-tiba berlari kearah muka saya yang membuat saya sangat terkejut dan hamper jatuh. Selebihnya pemanjatan berlangsung lancar. Saya sampai di top bertepatan dengan adzan sholat Jumat. Kebetulan hari ini juga bertepatan dengan tanggal 17 Agustus. Sehingga kami pun merayakan 17 Agustusan di puncak lembah kera.

Kami tidak lama berada di puncak. Agar lebih rileks beristirahat, kami memutuskan untuk turun terlebih dahulu dan baru akan ngeclean jalur keesokan harinya. Setelah beres-beres alat memanjat, kemudian kami beristirahat sambil menyiapkan makan malam. Sebelum tidur kembali dilakukan evaluasi dan perencanaan dan ditutup dengan agenda lain-lain. Kemudian bang Sutar mulai mendongeng tentang perjalanan MPnya tahun lalu. krik..krik..

Hari keenam

Rencana kami di hari keenam ini adalah meng-clean perlengkapan memanjat yang masih ditebing serta mencari barang-barang yang hilang. Barang-barang yang ternyata jumlahnya berkurang adalah carabiner dan padding. Saya sendiri bertugan suntuk mengeclean pitch 1 dan turun dengan triple roop technique sedangkan bang Sutar akan melakukan free climbing hingga top. Doni sendiri akan ngeclean pitch 2 dan pitch di top juga terun menggunakan triple rope technique. Saya juga akan melakukan mapping selama bang Sutar memanjat.

Doni sendiri sampai di top terlebih dahulu untuk ngebellay bang Sutar. Saya sendiri hanya akan naik hingga pitch 1. Namun di tengah pemanjatan tiba-tiba ada perubahan rencana sehingga Kami hanya akan turun dengan one rope technique dan bang Sutar akan ngeclean dan turun lewat jalur belakang. Halini dilakukan karena waktu yang sudah mepet sehingga mungkin apabila tetap dilakukan rencana awal kami baru akan pulang nanti malam. Alat-alat yang hilang ternyata tetap tidak dapat ditemukan.

Setelah beres-beres dan packing kami ke rumah pak Mortono untuk pamit sekaligus memberikan sedikit ala kadarnya. Kami juga bersih-bersih sebelum kembali ke sekretariat Impala.

Kami sampai di Unibraw sekitar pukul 7 dan telah disambut oleh tim caving, Oraders yang telah datang dari kemarin, serta ada tambahan fauzan yang datang sehari setelah keberangkatan kami. Malam itu kami saling berbagi pengalaman perjalanan kami masing-masing.

Hari ketujuh

Rencana tim hari ini adalah berkeliling kota Malang mengunjungi obyek wisatanya. Pastinya kami juga ingin mengunjungi daerah Batu yang dijuluki sebagai “puncak”nya Malang. Kami menuju ke pemandian air panas di Batu. Seharian penuh kami di sana dan kemudian ditutup dengan membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Hari kedelapan

Detik-detik terakhir sebelum kami meninggalkan kota Malang. Ingin rasanya tinggal lebih lama disana. Sekarang anggota tim sudah lengkap karena tim GH telah pulang kemarin malam. Banyak sekali yang kami terutama saya sendiri dapatkan. Mungkin baru 2 tahun lagi kami akan kembali untuk melunasi hutang jalur yang belum kami tuntaskan. Kami sangat berterima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan Impala Unibraw yang telah banyak kami repotkan.

Kami meninggalkan Malang tepat pukul 2 dan rencananyqa akan tiba pukul 10 pagi di Jakarta.

Hari kesembilan

Welcome to Depok!! Akhirnya kami tiba di kampus tercinta ini. Dengan membawa pengalaman berharga selama seminggu perjalanan. Berbekal MP kami siap kembali mengarungi sibuknya perkuliahan di teknik.

Kalau misalnya saya ditanya apa enaknya memanjat tebing, Jujur saya akan bilang bahwa naik tebing itu tidak enak, capek, cari penyakit. Namun ketika perjalanan yang kita lalui itu telah selesai, rasa capek yang menggelayut telah hilang, dan kita mencoba mengingat kembali apa yang telah kita lakukan, pengalaman yang kita dapat akan membuat kita ingin dan ingin lagi memanjat.

Terakhir, sehari sebelum perjalanan MP Bersama ini adalah hari ulang tahun saya. Walaupun anak KAPAnya sendiri tidak ada yang ingat (hiks..), namun saya menganggap perjalanan MP ini merupakan the unforgettable birthday present yang saya dapatkan. Btw sori ya cheer (Kaops), gw nga datang pas malam karantina soalnya lagi ada makan2 di rumah gw ^_^.

KAPA!!!

Fathur (NR1037)